Selasa, 16 Jun 2020 10:07 WIB

5 Fakta Lonjakan 100 Kasus Baru Virus Corona di Beijing yang Diwaspadai WHO

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Negara China, Singapura, dan Jepang adalah negara yang berhasil menghadapi wabah COVID-19 dengan baik. Namun mereka harus mengantisipasi adanya gelombang kedua. Beijing hadapi gelombang kedua Corona. (Foto ilustrasi: Getty Images)
Jakarta -

Baru-baru ini China kembali melaporkan lonjakan kasus Corona usai 2 bulan dinyatakan aman dari Corona. Bahkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta seluruh negara waspada terhadap munculnya kembali lonjakan kasus Corona di China.

Mulanya terdapat lebih dari 50 kasus Corona ditemukan di pasar Xinfadi, Beijing. Kini pemerintah setempat tengah melakukan tes massal untuk menghadapi gelombang kedua Corona, berikut 3 hal di balik desakan WHO untuk waspada terkait dengan gelombang kedua di China.

WHO konfirmasi lebih dari 100 kasus

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi lebih dari 100 kasus virus Corona (COVID-19) resmi tercatat dalam cluster penularan baru di Beijing, China. WHO pun memperingatkan negara-negara untuk tetap waspada.

Seperti dilansir AFP, Selasa (16/6/2020), WHO menyatakan sejauh ini tidak ada kematian yang dilaporkan dalam cluster penularan Corona terbaru di ibu kota China itu. Namun, sebut WHO, melihat pada luas dan konektivitas wilayah Beijing, kemunculan cluster baru ini patut memicu kekhawatiran serius.

"Bahkan di negara-negara yang telah menunjukkan kemampuan untuk menekan penularan, negara-negara itu harus tetap waspada pada kemungkinan kemunculan kembali," ujar Sekretaris Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dalam konferensi pers virtual.

Strain disebut berasal dari Eropa

Yang Peng, ahli dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Beijing, membahas lonjakan kasus baru dalam wawancara televisi pada hari Minggu, mengklaim bahwa urutan genom dari strain virus di China berasal dari Eropa. Namun pihak berwenang juga mengatakan mereka masih berusaha memahami bagaimana virus ditransmisikan ke pasar grosir Xinfadi.

"Sekuensing genom menunjukkan strain sebenarnya dari Eropa, peneliti bekerja untuk menentukan dengan tepat bagaimana mereka telah mencapai pasar," ujar Yang.

Dugaan dua kemungkinan awal wabah kedua

Yang, mengatakan ada dua kemungkinan yang diteliti tentang bagaimana virus itu masuk ke pasar. "Seseorang mungkin melalui makanan laut atau daging yang terkontaminasi (diimpor dari luar negeri)" jelasnya.

"Epidemi di negara lain masih sangat parah," sebut Yang.

Teori lainnya adalah bahwa virus Corona dibawa ke pasar oleh orang-orang yang menyebarkan virus melalui bersin dan batuk.

Beijing lockdown 21 wilayah

Lockdown juga telah diperluas ke 21 kompleks perumahan dekat dengan pasar. Tempat-tempat olahraga dalam ruangan dan hiburan di seluruh Beijing telah diperintahkan untuk ditutup, seperti halnya banyak sekolah.

"Sesuai dengan prinsip untuk mengutamakan keselamatan masyarakat, kami telah mengambil langkah-langkah penguncian (lockdown) di pasar Xinfadi dan sekitarnya," kata seorang pejabat setempat, Chu Junwei.

Tes massal

Pasar tutup pada Sabtu pagi dan pembatasan diberlakukan pada lingkungan terdekat. Pada hari Senin, Beijing telah mendirikan hampir 200 tempat pengujian dan menghubungi sekitar 200.000 orang yang telah mengunjungi pasar sejak akhir Mei, demikian laporan kantor berita Xinhua.



Simak Video "Siapkah Indonesia Hadapi Varian Corona yang Lebih Ganas?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)