Selasa, 23 Jun 2020 08:36 WIB

Permintaan Meningkat, WHO Tegaskan Dexamethasone Bukan Pencegah Corona

Firdaus Anwar - detikHealth
Tedros Adhanom Ghebreyesus, Director General of the World Health Organization (WHO), addresses a press conference about the update on COVID-19 at the World Health Organization headquarters in Geneva, Switzerland, Monday, Feb. 24, 2020. (Salvatore Di Nolfi/Keystone via AP) WHO tegaskan dexamethasone bukan untuk mencegah COVID-19. (Foto: Salvatore Di Nolfi/Keystone via AP)
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melihat adanya peningkatan permintaan dexamethasone di pasar. Hal ini menyusul berita studi awal menemukan bukti dexamethasone bisa mengurangi tingkat kematian pada pasien Corona COVID-19 dengan gejala parah atau kritis.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengingatkan bahwa dexamethasone bukan obat pencegah Corona. Selain itu tidak ada bukti bahwa dexamethasone bisa bermanfaat bila dikonsumsi oleh pasien dengan gejala ringan hingga sedang.

"WHO menekankan dexamethasone hanya diberikan dalam pengawasan ketat pada pasien COVID-19 dengan gejala parah atau kritis. Tidak ada bukti bahwa obat ini efektif bila diberikan pada pasien dengan gejala ringan atau sebagai upaya pencegahan, karena malah bisa menimbulkan efek samping berbahaya," ujar Tedros seperti dikutip dari halaman resmi WHO, Selasa (23/6/2020).

Meski permintaan meningkat, suplai dexamethasone seharusnya tidak menjadi masalah besar karena ini termasuk ke jenis obat murah yang sudah lama diproduksi massal. Hanya saja Tedros mengingatkan agar kualitas produksi tetap dijaga dan waspada terhadap oknum yang membuat produk palsu.

"Beruntung ini adalah obat murah dan di dunia ada banyak produsen dexamethasone, yang kami yakin dapat meningkatkan produksi," kata Tedros.



Simak Video "WHO: Dexamethasone Hanya untuk Pasien COVID-19 Kondisi Kritis"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)