Jumat, 26 Jun 2020 05:51 WIB

Ilmuwan Ungkap Skenario Terburuk Virus Corona

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Virus Corona COVID-19 (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Sebuah riset di University of Minnesota mengungkap 3 skenario pandemi virus Corona COVID-19, salah satunya disebut skenario terburuk. Riset ini mengingatkan, pandemi belum akan berakhir dalam 18-24 bulan ke depan.

Prediksi ini menyusul peringatan organisasi kesehatan dunia WHO bahwa jumlah kasus COVID-19 secara global akan mencapai 10 juta pekan depan. Tren penambahan kasus belakangan ini dikatakan bergerak secara eksponensial.

"Pada bulan pertama wabah, kurang dari 10 ribu kasus dilaporkan ke WHO. Sebulan terakhir, hampir 4 juta kasus dilaporkan," kata Tedros Adganom Ghebreyesus, Sekjen WHO, dikutip dari News.com.au.

Dalam sebuah riset terbaru, ilmuwan University of Minnesota mengungkap 3 model yang memprediksi skenario kelanjutan pandemi COVID-19. Skenario pertama memperkirakan bakal ada serangkaian gelombang kecil, secara berulang terjadi menyusul gelombang pertama.

Ilmuwan menyebut skenario ini sebagai 'Peaks and Valleys'.

Skenario kedua adalah 'Fall Peak', yang diklaim sebagai skenario terburuk dan diperkirakan terjadi di belahan bumi utara pada musim gugur yang berlangsung September hingga Desember.

Disebutkan, skenario ini mirip yang terjadi pada wabah flu Spanyol pada 1918 dan 1919. Perkiraan ini didasarkan pada kemungkinan belum adanya vaksin hingga 2012, mudahnya virus menular, dan banyaknya orang terinfeksi tanpa gejala.

Skenario ketiga adalah 'slow burn', skenario baru yang diklaim belum pernah teramati pada kasus-kasus pandemi. Gelombang pertama COVID-19 pada skenario ini akan diikuti dengan penularan dan kemunculan kasus tanpa pola yang jelas.

Apapun skenario yang akan terjadi, ilmuwan mengingatkan bahwa pandemi COVID-19 belum akan selesai dalam waktu dekat. Kondisi saat ini dikatakan sangat sulit ditebak.

"Harus bersiap untuk aktivitas COVID-19 yang signifikan dalam setidaknya 18-24 bulan," kata para ilmuwan.



Simak Video "WHO Sebut COVID-19 Bukan Penyakit Musiman, Tahan di Segala Cuaca"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)