Jumat, 26 Jun 2020 20:00 WIB

Cerita Staf Ahli Ridwan Kamil Sembuh dari COVID-19 dan Jadi Donor Plasma

Siti Fatimah - detikHealth
Donor plasma darah di PMI Kota Bandung Staf ahli Gubernur Jabar Ridwan Kamil donorkan plasma darahnya. (Foto: Siti Fatimah/detikcom)
Bandung -

Baru-baru ini, RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung sedang mengembangkan terapi plasma konvalesen untuk mempercepat penyembuhan pasien positif COVID-19. Ridwansyah Yusuf Achmad (32), salah satu donor plasma konvalesen turut berkontribusi dalam program terapi karena ia merupakan satu dari sekian banyak orang yang sempat tertular virus corona kemudian sembuh.

"Awalnya kan saya sempat kena (COVID-19) bulan Maret lalu. Sekitar dua minggu kemudian dinyatakan sembuh. Waktu itu saya dirawat di RSHS dan setelah pulang dikontak oleh dokter, ditawarkan untuk mendonorkan plasma darah saya," kata Yusuf, sapaan akrabnya saat dihubungi detikcom, Jumat (26/6/2020).

Dia menceritakan, dengan usianya yang masih terbilang muda, ia memberanikan diri untuk mendonorkan plasma darahnya. Karena dia percaya dari satu labu darah plasma konvalesen (darah kuning) yang ia donorkan dapat menyelamatkan satu nyawa manusia.

"Saat ditawarkan oleh dokter, saya tanya buat apa? Lalu mereka katanya sedang pengembangan menggunakan plasma darah untuk membantu pasien COVID-19 yang membutuhkan. Saya bilang bersedia dan saya ikuti semacam prosedur tambahan," ujarnya.

Yusuf yang sekaligus staf ahli Gubernur Jabar Ridwan Kamil hubungan internasional itu menceritakan prosedur yang telah ia lewati untuk dapat mendonorkan plasma darahnya. Dari mulai swab tes ulang untuk menentukan tidak ada virus yang tersisa hingga pengecekan darah di laboratorium.

"Alhamdulillah dari swab tes negatif, lalu saya dicek darah untuk pengetesan kondisi tubuh dan beberapa analisa lainnya. Kemudian setelah itu baru diperbolehkan dan layak untuk mendonorkan plasma konvalesen," imbuhnya.

Pelaksanaan donor dilakukan di PMI Kota Bandung yang berada di Jalan Aceh. Menurutnya, para petugas pengambil darah menggunakan standar alat pelindung diri (APD) dan memberikan kenyamanan selama proses pengambilan darah. Dia mengaku, tidak merasa khawatir saat memberikan plasma darahnya meskipun baru dinyatakan sembuh dari virus yang mematikan ini.

"Kekhawatiran tidak ada, cuman ini baru pertama kali jadi pengalaman yang berbeda. Selama 45 menit tangan tidak bergerak dan jarum yang dipasang cukup besar, karena sebelumnya belum pernah melakukan donor darah. Ukurannya 400 cc darah kuning yang diambil," tuturnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2