Sabtu, 27 Jun 2020 09:15 WIB

Hingga Bulan Mei, 5 Warga DIY Meninggal Akibat DBD

Pradito Rida Pertana - detikHealth
Ratusan rumah di RW03 Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat difogging. Hal tersebut guna mengantisipasi wabah demam berdarah. Kasus DBD di Indonesia meningkat. (Foto: Rifkianto Nugroho)
Yogyakarta -

Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyebut dari bulan Januari hingga Mei ada 2.714 kasus demam berdarah dengue (DBD). Dari jumlah tersebut, 5 di antaranya meninggal dunia.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes DIY, Berty Murtiningsih menjelaskan, untuk Kota Yogyakarta terdapat 235 kasus, Kabupaten Sleman 586 kasus, Kabupaten Bantul 859 kasus, Kabupaten Gunungkidul 857 kasus, dan Kabupaten Kulon Progo 177 kasus. Jumlah tersebut merupakan akumulasi kasus DBD sejak bulan Januari hingga bulan Mei 2020.

"Jadi total dari Januari sampai Mei ada 2714 kasus. Sedangkan untuk korban meninggal dunia ada 5 orang," katanya kepada detikcom, Jumat (26/6/2020).

Berty merinci, 5 orang tersebut terdiri dari 4 warga Kabupaten Gunungkidul dan 1 warga Kabupaten Sleman. Sedangkan untuk 3 Kabupaten Kota lainnya belum ada korban meninggal karena DBD.

Merujuk data dari Dinkes, pada tahun 2019 khususnya bulan Januari hingga Mei tercatat di Kota Yogyakarta ada 96 kasus, Kabupaten Sleman 188 kasus, Kabupaten Bantul 236 kasus, Kabupaten Gunungkidul 60 kasus dan Kabupaten Kulon Progo 26 kasus. Sedangkan untuk korban meninggal hanya 2 orang yang masing-masing berasal dari Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman.

"Untuk tahun lalu, khususnya bulan Januari sampai Mei tercatat ada 536 kasus dengan 2 orang diantaranya meninggal dunia," ucapnya.

Karena itu Berty menyebut untuk jumlah kasus DBD di DIY tahun ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Menurutnya hal itu karena saat ini masuk pergantian musim.

"Kenaikan kasus disebabkan karena saat ini sudah memasuki musin kemarau, bisa dikatakan ada perubahan musim. Selain itu banyak genangan air yang tidak dilakukan pemberantasan sarang nyamuk secara optimal, sehingga populasi nyamuk aedes aegypti menjadi tinggi," ujarnya.

Berkaca dari hal tersebut, pihaknya saat ini juga tengah berupaya untuk meningkatkan penyuluhan kepada masyarakat, khususnya terkait Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), Demam berdarah dengue (DBD). Selain itu, pihaknya mendorong para pihak terkait untuk ikut mengedukasi masyarakat terkait PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk).

"Kita upayakan penyuluhan yang lebih optimal pada masyarakat untuk tetap melakukan PSN dengan baik dan rutin. Kita juga menyiapkan pelayanan kesehatan, terutama di Puskesmas untuk lebih waspada pada kasus DBD," katanya.

"Selain itu, kita mendorong para pimpinan dan tokoh masyarakat agar selalu memberikan motivasi dan dukungan pelaksanaan PSN, seperti halnya dengan menyiapkan logistik," imbuh Berty.



Simak Video "dr. Reisa Ingatkan Bahaya DBD di Tengah Pandemi COVID-19"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)