Jumat, 03 Jul 2020 05:50 WIB

Round Up

Pegawai Starbucks Intip Payudara Wanita, Kenali Dampak Psikis Pelecehan

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
ilustrasi minum kopi Pelecehan di warung kopi (Foto: thinkstock)
Jakarta -

Baru-baru ini viral video yang memperlihatkan pegawai Starbucks sedang mengintip payudara pelanggan wanita melalui CCTV. Video ini kemudian menuai banyak kecaman dari netizen di media sosial.

Pihak Starbucks Indonesia mangatakan telah melakukan investigasi dan memecat pegawai tersebut. "Perilaku tersebut tidak dapat kami toleransi dan individu yang bersangkutan sudah tidak bekerja lagi bersama PT Sari Coffee Indonesia," kata Senior General Manager Corporate PR and Communications PT Sari Coffee Indonesia, Andrea Siahaan, kepada detikcom, Kamis (2/7/2020)

Banyak netizen menilai perilaku pegawai Starbucks tersebut termasuk pelecehan seksual dan adapula yang menyebutnya kelainan seksual.

Psikolog klinis Kasandra Putranto dari Kasandra & Associate mengatakan perlu pemeriksaan lebih jauh untuk memastikan apakah seorang pria mengintip karena kelainan seksual, seperti voyeurism.

"Harus ada pemeriksaan. Banyak alasan (pria suka mengintip)," kata Kasandra pada detikcom, Kamis (2/7/2020).

Sementara psikolog forensik Reza Indragiri Amriel mengatakan perlu mengenali perbedaan perilaku mengintip mana yang timbul karena kelainan seksual atau hanya karena dorongan dan ada kesempatan.

"Kalau mengintip sudah menjadi kelakuan yang harus dilakukan agar bisa terangsang, sehingga bila tidak mengintip maka tidak bisa terangsang, maka barulah bisa disebut voyeurism. Jadi bedakan antara mengintip sebagai filia dan mengintip sebagai hasil kalkulasi terhadap kesempatan serta risiko," kata Reza saat dihubungi detikcom secara terpisah.

Korban tindakan tersebut juga memiliki dampak kemungkinan pada psikologis. Seperti yang dijelaskan Nuzulia Rahma Tristinarum, korban bisa saja mengalami trauma.

"Bagi korban, tindakan ini dapat dikategorikan sebagai pelecehan. Pelecehan dapat menimbulkan trauma di kemudian hari," jelas Rahma saat dihubungi detikcom, Kamis (2/7/2020).

"Bentuk gangguannya bisa bermacam macam. Bisa dalam bentuk pikiran yang selalu muncul, mimpi buruk, perasaan tidak berharga dan lainnya. Bentuknya bisa berbeda beda antara orang yang satu dan lainnya," lanjut Rahma.

Otomotif


Simak Video "UNICEF: Orang Tua Juga Harus Perhatikan Kesehatan Jiwa"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)