Senin, 06 Jul 2020 09:00 WIB

Skenario Para Ilmuwan Jika Pandemi Corona Bertahan hingga Akhir Tahun

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Wabah virus corona telah ditetapkan oleh WHO sebagai darurat global. Para ilmuwan di berbagai negara di dunia berlomba-lomba mengembangkan vaksin dari virus itu Skenario ilmuwan jika vaksin Corona bertahan hingga akhir tahun. (Foto ilustrasi: AP Photo)
Jakarta -

Saat ini, pandemi virus Corona yang melanda dunia sejak akhir 2019 lalu sudah berlangsung selama enam bulan. Bahkan telah menginfeksi sebanyak 11 juta penduduk di dunia.

Sejauh ini, Amerika Serikat tampaknya tidak banyak menunjukkan upaya untuk menghentikan penyebaran virus Corona. Kasus yang melonjak di sebagian besar negara bagian pada bulan Juni, memimpin negara itu untuk menetapkan empat catatan baru terkait total kasus harian dalam seminggu.

"Dalam enam bulan ini, saya pikir virusnya jauh lebih efektif daripada kebanyakan tanggapan kami," kata ahli epidemiologi di Sekolah Kesehatan Masyarakat Mailman, Columbia University, Stephen Morse, yang dikutip dari Business Insider, Senin (6/7/2020).

Ilmuwan lainnya, Amesh Adalja dari Pusat Keamanan Kesehatan Johns Hopkins University memprediksi situasi dunia, jika pandemi ini terus bertahan hingga enam bulan berikutnya.

Keduanya berharap Amerika dan dunia bisa akan memiliki penanganan pandemi yang lebih baik pada akhir Desember 2020 mendatang. Berikut 4 skenario yang dikutip dari Business Insider yang mereka harapkan bisa terjadi jika pandemi bertahan hingga satu tahun.

1. Optimis adanya vaksin

"Saya sangat enggan memprediksi apapun, karena saya tidak pernah membayangkan responnya akan begitu kacau di enam bulan kemudian," kata Morse.

"Pada 30 Desember 2020, saya berharap kita bisa memiliki vaksinnya," imbuhnya.

Adalja pun memprediksi hal yang serupa. Ia percaya bisa memiliki vaksin yang aman dan manjur untuk virus tersebut.

Setidaknya 30 vaksin virus Corona diperkirakan mulai diuji pada manusia sebelum akhir tahun. Bahkan 16 kandidat terkemuka sudah diuji pada manusia dalam uji klinis.

Salah satu kandidat yang menjanjikan adalah vaksin yang dikembangkan oleh Moderna. Perusahaan bioteknologi ini yang pertama kali mempublikasikan hasil tes awal pada manusia pada 16 Maret lalu. Bahkan Moderna akan memulai uji coba efikasi tahap akhir pada 30.000 orang pada Juli.

Namun, pemerintah Amerika Serikat berharap bisa menyiapkan ratusan juta dosis vaksin pada Januari 2021 mendatang. Jika itu terjadi, akan menjadi catatan pengadaan vaksin tercepat dalam sejarah vaksin.

Tetapi, Adalja mengatakan kemungkinan besar dosis vaksin awal akan tersedia untuk orang yang paling berisiko tinggi dan petugas kesehatan, bukan mayoritas penduduknya.

2. Bisa melakukan pengujian di rumah

Morse dan Adalja juga berharap Amerika Serikat dan negara lainnya bisa mengakhiri tahun ini dengan lebih banyak cara untuk pengujian virus Corona.

"Kapasitas diagnostik kami masih berantakan. Saya berharap itu bisa meningkat dalam enam bulan ke depan, dan mungkin kita bisa mendapatkan gambaran tentang insiden nyata dan penyebaran virus," kata Morse.

Para peneliti jumlah kasus aktual jauh lebih besar dari perhitungan saat ini. Pengujian yang diperluas akan memberikan gambaran lebih baik pada para ahli terkait jumlah orang yang terinfeksi virus tersebut.

"Pengujian cepat di rumah akan membantu, tapi saya tidak tahu kapan akan memilikinya," ujar Adalja.

3. Pilihan perawatan medis lain

Belum ada pengobatan yang ampuh untuk mengatasi virus Corona ataupun gejalanya. Obat yang saat ini paling menjanjikan adalah remdesivir, bahan kimia yang disetujui FDA dalam penggunaan darurat pada 1 Mei lalu.

Obat itu tampaknya bisa membantu pasien virus Corona yang dirawat di rumah sakit bisa pulih lebih cepat. Dari uji klinis juga menunjukkan bahwa dexamethasone, steroid umum dan murah bisa mengurangi angka kematian pada pasien COVID-19 yang parah.

Adalja berharap pada Desember nanti, akan ada lebih banyak dokter yang bisa memanfaatkan obat-obatan untuk merawat pasien Corona. Hal itu diharapkan bisa mengurangi penderitaan, meringankan beban pada sistem perawatan kesehatan, dan menyelamatkan nyawa.

"Itu bisa mempertipis mortalitas akibat virus," katanya.

Ia juga menambahkan bahwa saat ini para ahli memiliki banyak alat untuk menangani virus Corona daripada yang dilakukannya pada awal pandemi.

4. Lockdown mungkin akan berkurang

Saat kasus infeksi meningkat, banyak negara menerapkan kebijakan lockdown atau sejenisnya. Beberapa negara melonggarkannya, tetapi sebagian tetap memberlakukannya. Tapi, mereka tidak berpikir bahwa kebijakan itu akan diterapkan pada enam bulan mendatang atau setelahnya.

"Mungkin ada sedikit keinginan untuk mengunci (lockdown) di antara publik atau kepemimpinan politik kita," kata Morse.

Namun, Adalja menyarankan negara-negara untuk menargetkan pembatasan khusus untuk mengendalikan penyebaran virus.

"Para gubernur negara bagian tidak melihat adanya jalan keluar lain kecuali lockdown," katanya.

5. Tantangan di 2021

Menurut Morse, tantangan di 2021 yang akan datang dalam mencegah penularan virus adalah mempertahankan pemberlakukan tindakan pencegahan yang dilakukan saat ini, seperti menjaga jarak sosial, masker, dan kebersihan tangan. Tapi, hal ini mungkin sulit untuk dilakukan.

"Karena hal itu bisa membosankan untuk dilakukan seiring waktu berjalan," kata Morse.

Selain itu, Adalja mengatakan tantangan besar lainnya setelah pandemi berjalan selama satu tahun adalah memastikan vaksin tersedia secara luas.

"Jika vaksin pada 2021, pendistribusian dan pemberian vaksin harus bisa dipastikan," ungkapnya.



Simak Video "Vaksin Virus Corona dari China Sudah Masuk ke Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)