Senin, 06 Jul 2020 09:15 WIB

5 Fakta Kalung 'Anti Corona' Kementan, Benarkah Bisa Bunuh Virus?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kalung antivirus Corona (Vadhia Lidyana-detikcom) Foto: Kalung 'antivirus' Corona (Vadhia Lidyana-detikcom)
Jakarta -

Belakangan heboh soal kalung antivirus Corona buatan Kementerian Pertanian (Kementan) yang rencananya akan diproduksi secara massal. Terbuat dari bahan eucalyptus dan diklaim bisa membunuh virus Corona.

Klaim tersebut lantas menuai kontroversi. Benarkah kalung ini ampuh menangkal virus Corona? Catat 5 faktanya sebagai berikut.

1. Diklaim bisa bunuh 42 persen Corona dalam 15 menit

Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) mengembangkan kalung 'antivirus' Corona dan akan diproduksi massal pada bulan Agustus mendatang. Produk yang berbasis tanaman atsiri (eucalyptus) diklaim mematikan Corona dan telah dipatenkan oleh Balitbangtan.

"Ini antivirus hasil Balitbangtan, eucalyptus, pohon kayu putih. Dari 700 jenis, 1 yang bisa mematikan Corona hasil lab kita dan hasil lab ini untuk antivirus, dan kita yakin. Bulan depan ini sudah dicetak, diperbanyak," kata Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo usai menemui Menteri PUPR Basuki Hadimuljono di kantor Kementerian PUPR, Jakarta, Jumat (3/7/2020).

Syahrul mengungkapkan, pemakaian kalung 'antivirus' ini selama 15 menit bisa membunuh 42% virus Corona. Sementara, jika pemakaiannya 30 menit maka dapat membunuh 80 persen virus Corona.

2. Dari tanaman eucaplyptus

Kalung ini dibuat dari bahan eucalyptus, jenis tanaman yang menghasilkan minyak atsiri dari masih berkerabat dengan kayu putih. Eucalyptus disebut bisa membunuh virus Corona yang sudah dibuktikan dari uji laboratorium Kementan.

Selain memproduksi kalung, Kementan juga membuat produk inovasi antivirus Corona lain dari bahan sejenis dalam bentuk inhaler, roll on, salep, hingga difuser.

3. Belum ada penelitian lebih lanjut terkait efektivitas

Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Dr dr Inggrid Tania, MSi, mengatakan bahan ini memang memiliki zat yang bersifat antibakteri, antivirus, dan anti jamur. Namun, terkait manfaatnya terhadap COVID-19 belum ada penelitian spesifiknya.

"Penelitian Kementan ini baru diujikan sampai tahap in vitro pada virus influenza, beta corona, gamma corona. Belum diuji spesifik terhadap virusnya COVID-19 yakni virus SARS-CoV-2," jelasnya pada detikcom.

4. Diduga memiliki klaim berlebihan

Praktisi kesehatan sekaligus dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, riset yang dilakukan terhadap eucalyptus baru sebatas in vitro di tingkat sel. Prof Ari lebih setuju kalung antivirus Corona itu cukup disebut sebagai kalung eucalyptus.

"Jadi saya tidak setuju jika kalung eucalyptus disebut sebagai kalung antivirus. Cukuplah disebut kalung kayu putih atau kalung eucalyptus," tegasnya pada wartawan, Minggu (5/7/2020).

5. Terdaftar sebagai jamu

Kepala Balai Besar Penelitian Veteriner Kementerian Pertanian, Indi Dharmayanti mengatakan riset tentang kalung antivirus Corona masih panjang. Klaim antivirus dikatakan bukan berasal dari peneliti.

"Bukan, klaim kita yang di BPOM adalah jamu melegakan saluran pernapasan, mengurangi sesak tapi punya konten teknologi di mana kita buktikan in vitro bisa membunuh Corona model dan influenza, cenderung mengurangi paparan," jelas Indi.



Simak Video "Ampuhkah Kalung 'Antivirus' Eucalyptus untuk Tangkal COVID-19?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)