Selasa, 07 Jul 2020 18:14 WIB

Studi Temukan Ganja Bisa Cegah Peradangan Paru Parah pada Pasien Corona

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Traditional Aceh Food Kuah Beulangong / traditional Acehnese cuisine made from meat mixed with jackfruit and eaten with white rice Ilustrasi ganja (Foto: Getty Images/iStockphoto/Riza Azhari)
Jakarta -

Ganja disebut dapat mencegah komplikasi parah di paru akibat infeksi virus Corona. Para peneliti telah menemukan bahwa salah satu komponen ganja dapat membantu mencegah gangguan paru yang berpotensi mematikan terkait dengan virus Corona, influenza, dan infeksi lainnya.

Studi baru, yang diterbitkan dalam Frontiers In Pharmacology, menunjukkan efek positif dari Tetrahydrocannabinol (THC). Komponen ini, dalam pemeriksaan laboratorium, melindungi paru dengan mengurangi peradangan yang disebabkan oleh infeksi.

Dikutip dari Medical Daily, para ahli menguji efek ganja pada sindrom gangguan pernapasan akut (ARDA) yang mempengaruhi lebih dari 3 juta orang di seluruh dunia setiap tahun. Sindrom ini dapat menyebabkan peradangan sehingga menimbulkan sesak napas, kulit kebiruan, bahkan kematian.

Pandemi COVID-19 diperkirakan akan meningkatkan jumlah orang yang menderita ARDS. Komplikasi juga datang dengan peningkatan signifikan dalam sinyal di paru-paru yang disebut badai sitokin.

Pada orang dengan COVID-19 dan penyakit pernapasan lainnya, sitokin bisa menjadi proinflamasi. Hal tersebut bisa menempatkan pasien pada risiko tinggi hiperinflamasi dan kemungkinan kematian.

Untuk melihat apakah ganja dapat membantu mencegah masalah tersebut, para peneliti fokus pada efek anti-inflamasi dari THC. Tim menyediakan obat yang terkandung THC pada hewan uji coba dengan ARDS untuk melihat efeknya pada peradangan di paru.

Hasil menunjukkan bahwa 100 persen kasus atau semua subjek hewan mampu menghindari gejala mematikan setelah diberi THC. Obat itu membantu mencegah kerusakan parah pada paru-paru dengan memblokir sitokin proinflamasi dan memperlambat peradangan apa pun.

ARDS telah menjadi masalah serius di seluruh dunia. Studi ini diharapkan dapat menjadi salah satu acuan di masa depan dalam memanfaatkan ganja untuk membantu mengelola penyakit paru-paru atau infeksi.

Namun, penting untuk mengetahui bahwa temuan awal berasal dari tes dengan tikus. Diperlukan lebih banyak penelitian untuk lebih memahami bagaimana THC bekerja melawan penyakit pernapasan dan apakah itu akan memberikan manfaat yang sama kepada pasien manusia.



Simak Video "Soal Legalnya Ganja di Negara Lain, Peneliti: Jangan Samakan Indonesia!"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)