Rabu, 08 Jul 2020 14:45 WIB

Apa Itu Reaktif Corona? Begini Cara Mengartikan Rapid Test

Firdaus Anwar - detikHealth
Belasan polisi di Bandung menjalani rapid test. Pemeriksaan itu diketahui digelar oleh Rumah Sakit Advent Bandung. Apa artinya bila hasil rapid test disebut reaktif corona? (Foto ilustrasi: Wisma Putra)
Jakarta -

Rapid test umum digunakan sebagai screening atau penapisan awal kasus infeksi virus Corona COVID-19. Hasil rapid test yang reaktif corona biasanya akan dilanjutkan dengan pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR) untuk memastikan diagnosis.

Cara kerja rapid test

Spesialis patologi klinik dr Muhammad Irhamsyah, SpPK, MKes, dari Primaya Hospital Bekasi Timur menjelaskan bahwa rapid test bekerja dengan cara mendeteksi antibodi yang dihasilkan tubuh. Spesifiknya antibodi Immunoglobulin M (IgM) dan Immunoglobulin G (IgG).

"Antibodi akan mengikatkan diri kepada bakteri dan virus penyebab penyakit. Kemudian, Antibodi akan menandai molekul-molekul asing tempat mereka mengikatkan diri sehingga sel pejuang tubuh dapat membedakan molekul asing tersebut sekaligus melumpuhkannya," kata dr Irhamsyah.

Tubuh akan memproduksi antibodi IgM saat seseorang pertama kali terinfeksi bakteri atau virus sebagai bentuk pertahanan pertama. Menurut dr Irhamsyah kadar IgM akan meningkat dalam waktu tiga hingga 14 hari saat terjadi infeksi dan kemudian akan menurun dan digantikan oleh Antibodi IgG yang akan muncul pada hari ke tujuh hingga 15 sampai infeksi hancur atau musnah.

Hasil rapid test IGM dengan nilai yang tinggi bisa dianggap sebagai tanda adanya infeksi yang aktif.

Akurasi rapid test

Ketika hasil rapid test reaktif, belum pasti juga orang tersebut artinya positif terinfeksi virus Corona. Menurut Direktur Laboratorium Biologi Molekuler Eijkman, Prof Amin Soebandrio, ini karena tingkat sensitivitas rapid test dinilai kurang baik bila dibandingkan dengan tes yang lebih spesifik yaitu dengan mesin PCR.

Pernah dilaporkan ada kasus hasil rapid test awal dinyatakan reaktif corona, namun yang kedua kalinya justru non-reaktif. Menurut Prof Amin kemungkinan ini karena adanya kesalahan pada bahan kimia yang digunakan dalam alat uji tersebut.

"Mungkin karena bahan kimianya yang kurang baik sehingga siapa pun yang dites pakai itu bisa positif. Jadi tesnya itu memang ada kesalahan," ungkapnya.

Oleh karena itu, beberapa ahli memang menyarankan rapid test dilakukan berulang kali.



Simak Video "Tarif Tertinggi Rapid Test Rp 150 Ribu, Sejumlah RS Kesulitan"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)