Rabu, 08 Jul 2020 18:59 WIB

Studi Teliti Keampuhan Herd Immunity Terkait Corona, Ini Hasilnya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Pandemi Seperti Virus Corona Akan Makin Sering Terjadi? Masih banyak populasi yang rentan terinfeksi COVID-19. (Foto: DW News)
Jakarta -

Herd immunity atau kekebalan kelompok sempat digadang bisa membantu manusia untuk mengatasi pandemi virus Corona COVID-19 yang merebak sejak Desember 2019 lalu. Studi di Spanyol melakukan penelitian terkait herd immunity dan hasilnya diterbitkan di jurnal The Lancet.

Studi mengungkap bahwa dari populasi pasien Corona di Spanyol, hanya 5 persen yang terbukti bisa mengembangkan sistem kekebalan tubuh. Hasil ini dinilai kuat untuk membuktikan bahwa herd immunity tidak ampuh untuk melawan virus Corona COVID-19.

"Temuan menunjukkan 95 persen populasi Spanyol tetap rentan terhadap virus Corona," tulis studi tersebut dikutip dari CNN International, Rabu (8/7/2020).

Studi itu juga menjelaskan bahwa herd immunity bisa dicapai jika sudah ada cukup banyak populasi yang terinfeksi virus, bakteri, atau telah mendapat vaksin, sehingga bisa menghentikan penularan virus.

Pusat Pengendalian Penyakit di Eropa mengatakan studi di Spanyol melibatkan 61.000 partisipan. Tidak hanya itu, penelitian ini disebut yang paling besar di antara studi serologis tentang virus Corona di berbagai negara, seperti di Swiss, China, dan Amerika Serikat.

"Dalam temuan ini, setiap pendekatan yang diusulkan untuk mencapai herd immunity melalui infeksi alami tidak etis dan sulit untuk didapatkan," kata para peneliti.

Jumlahnya masih belum cukup

Dokter masih tidak yakin jika dengan memiliki antibodi terhadap virus Corona, orang-orang bisa terhindar dari infeksi virus Corona lagi. Masih belum ditemukan bukti yang jelas juga terkait lama waktu dan seberapa baik antibodi bisa melindungi diri dari virus.

Dalam laporan studi tersebut, terungkap bahwa seroprevalensi atau tingkat antibodi terhadap patogen dalam darah juga masih rendah. Hal ini membuat herd immunity masih sulit untuk dicapai. Bahkan, lebih membebani sistem kesehatan negara.

"Beberapa ahli menghitung, bahwa sekitar 60 persen dari seroprevalensi mungkin berarti herd immunity. Tetapi, kami masih sangat jauh untuk mencapai pada angka itu," jelas penulis utama studi Spanyol tersebut sekaligus direktur Pusat Nasional Epidemiologi Spanyol, Profesor Marina Pollan.



Simak Video "Aturan Longgar dan Targetkan Herd Immunity COVID-19, Swedia Gagal?"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/fds)