Kamis, 09 Jul 2020 11:27 WIB

5 Mitos Virus Corona yang Bisa Picu Munculnya Gelombang Kedua

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Negara China, Singapura, dan Jepang adalah negara yang berhasil menghadapi wabah COVID-19 dengan baik. Namun mereka harus mengantisipasi adanya gelombang kedua. 5 Mitos tentang virus Corona yang bisa picu gelombang kedua. (Foto: Getty Images)
Jakarta -

Pandemi virus Corona masih terus berlangsung setelah pertama kali muncul pada akhir Desember 2019 lalu. Setelah kemunculannya, banyak gejala bahkan peraturan yang seringkali diabaikan dan malah memperparah keadaan dunia.

Dikutip dari Daily star, berikut 5 mitos tentang virus Corona yang bisa membawa suatu negara dilanda gelombang kedua pandemi ini.

1. Usia muda kebal COVID-19

Sebagian orang percaya virus Corona hanya membahayakan orang-orang yang sudah berusia lanjut. Tetapi, bulan lalu sebuah rumah sakit di Sheffield melaporkan seorang bayi berusia 13 hari meninggal karena virus Corona, tanpa ada masalah kesehatan yang mendasarinya.

Hal ini membuktikan orang-orang yang berusia muda juga bisa terinfeksi virus Corona. Bahkan di Inggris sampai saat ini sudah ada 20 pasien di bawah usia 19 tahun yang meninggal karena virus Corona.

2. Masa darurat COVID-19 sudah lewat

Menurunnya jumlah kematian yang dilaporkan di beberapa negara mengasumsikan jika masa darurat atau berbahaya dari virus ini telah lewat. Hal ini bisa membuat banyak orang merasa terlalu percaya diri.

"Hampir di setiap tempat mulai mengendurkan pengawasannya dan jaga jarak sosial mulai berkurang, di situlah wabah bisa muncul," kata Anthony Costello, dari Independent SAGE.

3. Cuaca hangat bisa menurunkan jumlah kasus

Cuaca dan suhu yang hangat disebut bisa mengurangi tingkat infeksi, karena saat berada di luar rumah orang-orang bisa lebih mudah untuk menjaga jarak. Selain itu, komponen virus juga disebut bisa rusak saat berada di bawah sinar matahari.

Namun, Independent Scage dari SAGE menegaskan bahwa penyebaran atau penularan virus saat berada di luar rumah justru lebih mudah terjadi.

4. Hanya bisa tertular dari orang yang bergejala

Seperti yang diketahui, virus Corona menular lewat droplet orang yang terinfeksi saat batuk, bicara, maupun bersin. Tetapi, virus ini juga bisa bertahan lama pada berbagai permukaan yang menjadi tempat jatuhnya droplet tersebut dan bisa bertahan hingga beberapa hari.

Tak hanya dari orang yang bergejala saja, orang tanpa gejala (OTG) terbukti lebih bisa menularkan virus tersebut pada orang lain.

5. Penggunaan masker tidak efektif cegah penularan virus

Ada anggapan yang mengatakan penggunaan masker hanya perlu dilakukan saat menggunakan transportasi umum saja. Tetapi, bukti kuat mengatakan penggunaan masker secara luas bisa mengurangi penyebaran virus tersebut.

Hal itu telah dibuktikan oleh Jepang, yang melaporkan 20 ribu kasus baru tetapi jumlah kematiannya kurang dari seribu. Sementara di Amerika Serikat, jumlah kasus barunya mencapai tiga juta dan 130 ribu kematian.

Apa bedanya?

Di Jepang, budaya menggunakan masker kembali dilakukan setelah terakhir diterapkan saat epidemi flu Spanyol melanda di tahun 1919. Sementara di AS malah protes untuk menentang penggunaan masker.

Kenyataannya, masker bisa mencegah penyebaran droplet dari orang lain saat berbicara, batuk, maupun bersin.

"Menggunakan masker kain yang sederhana justru bisa secara signifikan mencegah penyebaran droplet yang mungkin membawa virus Corona ke orang lain," kata penulis di Prosiding National Academy of Sciences AS.



Simak Video "WHO Sebut COVID-19 Bukan Penyakit Musiman, Tahan di Segala Cuaca"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/kna)