Senin, 13 Jul 2020 13:17 WIB

Perhimpunan RS Indonesia Jelaskan Penyebab Variasi Tarif Rapid Test

Firdaus Anwar - detikHealth
Sejumlah PNS di lingkungan Pemkot Jakarta Utara mengikuti rapid test. Kegiatan ini untuk memastikan seluruh pegawai terbebas dari virus Corona. Kemenkes tetapkan tarif tertinggi rapid test Rp 150 ribu. (Foto ilustrasi: Pradita Utama)
Jakarta -

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) lewat Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI nomor HK.02.02/I/2875/2020 mengatur tarif maksimal layanan rapid test Corona mandiri Rp 150.000. Tujuannya untuk menjawab keluhan masyarakat yang kebingungan karena harganya bisa berbeda-beda di tiap fasilitas kesehatan seperti rumah sakit (RS).

"Berbagai variasi harga di luar, ada yang di bawah 100 ribu tapi ada juga yang di atas 200 ribu, masyarakat dibikin bingung mau pilih yang mana? Kualitasnya seperti apa?" kata Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes RI, Tri Hesty Widyastoeti, dalam konferensi yang disiarkan BNPB, Senin (13/7/2020).

"Permintaan dari masyarakat sendiri sudah banyak memprotes kenapa ini tidak ditetapkan harganya. Sehingga ini juga membantu masyarakat, masyarakat itu tidak bingung kalau ke tempat layanan kesehatan sudah pasti harganya sekian," lanjutnya.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), Lia G. Partakusuma, menjelaskan pihaknya sudah mengimbau agar rumah sakit mengikuti peraturan tarif rapid test yang dikeluarkan kementerian. Namun, ia juga meminta ada waktu transisi karena banyak rumah sakit yang kaget dan belum siap.

Menurut Lia perbedaan harga rapid test ini terjadi karena banyaknya variasi merek alat di pasaran. Di masa awal pandemi, pilihan alat rapid test dari penyuplai terbatas lalu secara bertahap semakin banyak dengan harga yang variatif.

"Waktu awal COVID ini datang kita tidak banyak punya pilihan untuk diagnosa deteksi ini. Sehingga yang menawarkan jenis pemeriksaan ini sangat terbatas. Sementara permintaan begitu banyak, tetapi yang ada terbatas. Sehingga itulah yang menyebabkan mungkin harga itu tidak terkontrol," kata Lia dalam kesempatan yang sama.

"Banyak RS yang meminta kepada PERSI apakah mungkin ada masa transisi. Karena pembelian yang dulu itu sedikit sekali yang harganya di bawah 100 ribu," lanjutnya.



Simak Video "Tarif Tertinggi Rapid Test Rp 150 Ribu, Sejumlah RS Kesulitan"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)