Rabu, 15 Jul 2020 05:31 WIB

Round Up

4 Fakta Gonta-ganti Istilah ODP-PDP Jadi Suspek Corona

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Virus Corona COVID-19 (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI) menghapus istilah orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP), dan orang tanpa gejala (OTG). Sebagai gantinya, muncul berbagai istilah baru seperti kasus suspek, kasus probable, dan kasus konfirmasi.

Pergantian istilah tersebut terdapat dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), diteken Menteri Kesehatan Terawan pada 13 Juli. Adakah dampak dari pergantian istilah tersebut?

Berikut 4 dampak dari pergantian istilah ODP, PDP, dan OTG Corona menjadi suspek hingga probable, menurut para pakar.

1. Memperbaiki data statistik Corona

Menurut Pandu Riono, ahli epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) pergantian istilah Corona bisa memperbaiki data statistik Corona. Terlebih pada kasus angka kematian Corona.

"Iya dulu kan kalau kematiannya belum konfirmasi kan nggak dilaporkan, yang dilaporkan hanya yang dikonfirmasi, PDP sama ODP nggak pernah dilaporkan, pertama-tama kan kaya gitu, kalau sekarang harus dilaporkan," kata Pandu.

2. Tantangan lebih banyak tes Corona

Sementara itu, Prof dr Ascobat Gani, MPH, DrPH - Guru Besar FKM UI, menjelaskan perubahan istilah ini dapat memastikan penanganan kasus Corona menjadi lebih baik. Prof Ascobat juga menilai dampak dari perubahan istilah ini menjadi tantangan melakukan tes Corona lebih banyak lagi, terutama menggunakan tes PCR.

"Dampaknya kita harus lebih meningkatkan testing, kita harus meningkatkan testing, Indonesia paling rendah saat ini, iya kan dibandingkan dengan negara-negara lain, memang susah sih negara kita penduduknya banyak betul ya," jelas Prof Ascobat.

3. Statistik berubah

Diwawancara secara terpisah, Kepala Departemen Epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Dr dr Tri Yunis Miko Wahyono, MSc menjelaskan pergantian istilah ini berdampak pada data yang selama ini mencatat kasus ODP dan PDP terpisah. Sebab, dalam regulasi istilah baru kasus ODP dan PDP kini digabung dalam kategori kasus suspek.

"Jadi suspek adalah kontak yang dekat dengan kasus dan mengalami gejala-gejala mau ringan dan berat itu namanya suspek kalau kemarin kan dibedakan ODP yang ringan, yang sedang atau berat itu PDP, nah sekarang disatukan semuanya namanya suspek," jelas Miko.

"Iya ke data artinya semua PDP ODP harus disatukan menjadi suspek, kemudian yang tinggal yang suspek jadi itu disatukan aja, tapi tidak segampang menyatukan dua hal," lanjutnya.

4. Ada juga dampak negatifnya

Pendapat berbeda disampaikan oleh pakar bahasa menilai penggantian istilah Corona malah membuat istilah semakin tidak jelas bahkan menakutkan.

"Dari segi bahasa semakin tidak jelas dan menakutkan. Dikatakan tidak jelas, karena pendekatan dan istilah medis (suspek) dikaitkan dengan riwayat perjalanan," ujar Pakar Bahasa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Autar Abdillah, Selasa (14/7/2020).

"Tidak semua riwayat perjalanan seseorang mempengaruhi masuknya virus. Istilah baru ini juga menjadi menakutkan. Orang yang ISPA, tiba-tiba masuk golongan suspek," tambahnya.



Simak Video "WHO Sebut 3 Tempat yang Mudah Tularkan Virus Corona "
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)