Minggu, 19 Jul 2020 14:01 WIB

Ngerinya Komplikasi dan Efek Jangka Panjang dari Infeksi Corona

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Ilustrasi virus Corona Komplikasi dan efek jangka panjang virus Corona. (Foto: Foto: Dok. NIAID (National Institute of Allergy and Infectious Diseases)
Jakarta -

Wabah COVID-19 pertama kali dianggap sebagai penyakit yang hanya menargetkan paru-paru. Tapi semakin lama, banyak penelitian menunjukkan bahwa infeksi tersebut sebenarnya bisa merusak hampir seluruh sistem organ dan efeknya bertahan lama bahkan setelah pulih.

Laporan terbaru menunjukkan bahwa coronavirus baru mempengaruhi paru-paru, jantung dan sistem saraf. Bahkan para peneliti juga melihat organ lain berisiko, seperti ginjal dan hati, serta bagian tubuh lainnya seperti saluran pencernaan.

"Awalnya kami memperlakukan virus ini seperti virus pernapasan lainnya seperti influenza," ahli penyakit menular dan vaksinolog UC Berkeley, John Swartzberg, MD, dikutip dari Medical Daily.

Pada paruh pertama 2020, dokter mengamati beberapa komplikasi yang persisten pada pasien COVID-19 seperti sesak napas. Selain itu diamati juga bahwa efek sitokin dari COVID-19 menargetkan sel-sel otot jantung.

Tak lama, COVID-19 juga terlihat menyerang sistem saraf pusat. Bukti menunjukkan bahwa virus dapat secara langsung mempengaruhi neuron dan menyebabkan masalah psikologis atau cacat kognitif.

Komplikasi serius dari virus Corona adalah munculnya pembekuan darah. Dalam beberapa kasus, pasien muncul dengan pembekuan darah yang tidak normal. Beberapa mengalami emboli paru ketika gumpalan darah menyebar ke paru-paru. Gumpalan lainnya menyebabkan stroke yang mempengaruhi sistem pembuluh darah otak.

Kedua emboli paru dan stroke telah dikaitkan dengan kerusakan jangka panjang pada organ tersebut. Efek jangka panjang lain dari COVID-19 juga ditemukan di ginjal beberapa pasien karena kelebihan sitokin, dan di hati dan saluran pencernaan karena COVID-19 dapat mengikat reseptor mereka.

Studi terbaru juga menunjukkan bahwa COVID-19 memiliki efek unik pada anak-anak. Para peneliti menemukan bahwa beberapa pasien muda mengalami sindrom peradangan multi-sistem yang mirip dengan penyakit Kawasaki, selama dan setelah infeksi parah, yang mempengaruhi kulit, persendian, ginjal, paru-paru dan jantung serta meningkatkan risiko kematian.

Tetapi ada cara untuk mencegah komplikasi yang serius. Menurut Swartzberg, orang harus mengubah kebiasaan tidak sehat gaya hidup mereka, seperti merokok dan vaping, untuk menghindari kondisi yang dapat memperburuk COVID-19, seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas.



Simak Video "Siapkah Indonesia Hadapi Varian Corona yang Lebih Ganas?"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)
dMentor
×
Franchise Bisnis Kecantikan hingga Pelosok Daerah
Franchise Bisnis Kecantikan hingga Pelosok Daerah Selengkapnya