Senin, 27 Jul 2020 13:32 WIB

Ini Mitos-mitos Vaksin Corona yang Tak Terbukti Kebenarannya

Firdaus Anwar - detikHealth
i Mitos-mitos soal vaksin Corona yang belum diketahui kebenarannya. (Foto: Fiona Goodall/Getty Images)
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan vaksin Corona COVID-19 masih dalam proses penelitian dan kemungkinan belum akan tersedia di tahun 2020. Prediksinya vaksin Corona paling cepat siap di awal tahun 2021, saat sudah melewati tahap uji klinis.

Terkait hal tersebut, meski vaksin corona belum tersedia, berbagai mitos tampaknya sudah lebih dulu menyebar di internet.

Apa saja mitos-mitos tersebut? Berikut rangkuman detikcom seperti dikutip dari BBC, Senin (27/7/2020):

1. Mengubah DNA

Satu video yang dibuat oleh seseorang bernama Carrie Madej mengklaim bahwa vaksin corona eksperimental yang diuji pada relawan bisa merusak DNA. Ia menyebut ini terjadi karena vaksin Corona dibuat tanpa mengikuti standar keamanan yang biasanya dilakukan pada proses pembuatan vaksin.

"Vaksin COVID-19 dirancang untuk mengubah kita menjadi organisme yang sudah dimodifikasi secara genetik," kata Carrie.

Beberapa ahli sudah membantah klaim Carrie. Satu peneliti dari Afrika Selatan, Sarah Downs, membuat video yang menjelaskan kekeliruan ini lalu dibagikan ke berbagai grup di media sosial.

"Mereka sekarang sudah lebih mengerti, ini membuat saya senang, karena awalnya banyak yang percaya," kata Sarah.

2. Uji klinis makan korban jiwa

Ketika sebagian vaksin Corona mulai menjalani uji klinis tahap I, mulai muncul cerita di media sosial tentang relawan mengalami efek samping berbahaya hingga akhirnya meninggal dunia. Cerita ini lagi-lagi dilatarbelakangi klaim bahwa vaksin dikerjakan terlalu cepat sehingga tidak mempedulikan protokol keamanannya.

Kepala grup pengembangan vaksin di Oxford, Profesor Andrew Pollard, menjelaskan vaksin Corona bisa dikembangkan relatif cepat karena tingginya minat sumber daya dan investasi yang dicurahkan. Selain itu para peneliti juga sudah memiliki data awal dari jenis virus Corona lain yang dulu sempat mewabah.

Dalam laporan uji klinis yang ada memang sekitar 16-18 persen relawan mengalami efek samping ringan seperti demam. Namun menurut peneliti efek samping ini bisa diatasi dengan pemberian parasetamol dan tidak ada relawan yang meninggal.

3. Vaksin penyebab kematian pandemi sebelumnya

Sempat beredar meme yang menyebut di pandemi flu Spanyol tahun 1918-an jutaan orang meninggal bukan karena penyakit itu, melainkan akibat pemberian vaksin. Hal ini kemudian dikaitkan dengan rencana pemberian vaksin Corona COVID-19.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menyebut bahwa pada tahun 1918 belum ada vaksin.



Simak Video "Kata Satgas soal Vaksin Covid-19 Umat Islam Akan Diganti yang Halal"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/kna)