Minggu, 09 Agu 2020 19:00 WIB

Virus COVID-19 Hingga Tick-Borne, Kenapa Penyakit 'Unik' Muncul di China?

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Untuk pertama kalinya, jumlah kematian per hari akibat wabah virus corona di China menembus angka 100 orang. Sedikitnya 108 orang meninggal dalam 24 jam pada Senin (10/2). Kemungkinan alasan China jadi sumber penyakit 'unik'. (Foto ilustrasi: Getty Images)
Jakarta -

China kembali menjadi sorotan dunia. Sebab, baru-baru ini China melaporkan adanya kasus infeksi virus yang disebabkan oleh gigitan kutu atau dikenal dengan tick-borne.

Dikutip dari Firstpost, virus yang telah menginfeksi sedikitnya 60 orang dan menewaskan 7 korban ini telah diidentifikasi sebagai penyebab penyakit severe fever with thrombocytopenia syndrome (SFTS).

Sebelum SFTS, China juga sempat melaporkan beberapa kasus wabah penyakit, seperti pes, virus flu babi G4, dan virus Corona COVID-19 yang hingga kini masih berlangsung dan telah menjadi pandemi di dunia.

Lantas mengapa begitu banyak penyakit 'unik' timbul di China?

Menurut ahli penyakit tropik infeksi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dr Adityo Susilo, SpPD-KPTI, kemungkinan ada beberapa faktor yang menyebabkan begitu banyak penyakit 'unik' atau jarang terdengar yang justru kerap muncul di China. Salah satunya adalah dari faktor gaya hidup masyarakat di negara itu.

"Saya kurang tahu persisnya, tapi yang pasti sih penduduknya banyak, terus kurang lebih juga berkaitan dengan gaya hidup kebersihan lingkungan dan lain-lain. Jadi saya juga nggak tahu kenapa China? Kita nggak bisa mengstigmatisasi juga," kata dr Adityo kepada detikcom, Minggu (9/8/2020).

"Tapi secara logikanya China penduduknya padat kemudian kebersihannya kurang dan pada akhirnya mungkin paparan terhadap penyakit kalau kemarin kan COVID, misalnya, pola makan ekstrim. Kalau ini kan bukan berkaitan dengan pola makan, tapi barangkali kebersihan dan kontak dengan hewan," jelasnya.

Selain itu, dr Adityo juga menjelaskan bahwa awal mula dilaporkannya kasus tick-borne ini berada di area perkampungan di China, yang mungkin saja banyak peternakan di daerah tersebut. Terlebih dalam sebuah studi tahun 2015, beberapa spesies kutu penyebab SFTS ini hidup di domba, sapi, anjing, dan kucing.

Meski begitu, dr Adityo menyatakan kekagumannya terhadap China karena mereka memiliki kemampuan yang cukup baik dalam mendiagnosis sebuah penyakit.

"Maksudnya, dia (China) di satu sisi padat penduduk terus agak jorok, tapi di sisi lain dia bisa mendiagnosis penyakit-penyakit dalam tanda kutip yang jarang dan aneh gitu," tuturnya.



Simak Video "Fakta-fakta Virus Tick-Borne yang Gegerkan China"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)