Senin, 17 Agu 2020 16:05 WIB

Ahli Epidemiologi Pertanyakan 'Warna-warni' Zona Wabah Corona

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Kasus Corona di Indonesia masih jadi sorotan. Dinkes Provinsi DKI Jakarta pun membenarkan data yang tampilkan 68 perkantoran di DKI jadi klaster virus Corona. Virus Corona COVID-19 (Foto: Rifkianto Nugroho)
Jakarta -

Ahli epidemiologi menilai banyak keanehan dalam upaya menangani wabah Corona di Indonesia. Salah satunya disebut terkait dengan zonasi wilayah, seperti disampaikan dr Masdalina Pane dari Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI).

"Jadi banyak keanehan dalam pengendalian itu iya kalau contoh kecil saja, kayak zonasi, analisis pewarnaan itu untuk apa sebenarnya, karena teman-teman di wilayah itu kan pertama sering bertentangan dengan yang di pusat, di wilayah itu mereka punya data lebih lengkap dari yang di pusat," jelas dr Masdalina saat dihubungi detikcom Senin (17/8/2020).

Menurut dr Masdalina, zonasi wilayah tidak memberikan makna yang berarti. Alih-alih menerapkan zonasi wilayah, dr Masdalina menegaskan lebih penting untuk memperhatikan indikator-indikator yang harus dicapai dalam menangani wabah.

"Tahu-tahu gugus tugas melakukan pewarnaan merah, kuning hijau. Hari ini wilayahnya hijau, besok kasus naik lagi misalnya naik satu setengah kali dibanding yang kemarin, kan langsung merah dalam waktu 1 minggu kan sekarang, sebelumnya satu hari," sebut dr Masdalina.

"Sekarang maknanya apa hari ini hijau besok merah, terus besok kuning, lalu hijau lagi, bolak-balik seperti itu," lanjutnya.

Penerapan zonasi wilayah menurutnya hanyalah membuat kisruh. Pengendalian wabah Corona seharusnya dinilai tidak seperti itu.

"Jadi maksud saya itu adalah pengendalian semu, jadi yang kita sebut semu itu bukan pengendalian yang sebenarnya," kata dr Masdalina.

"Kemudian juga arah pengendalian ini menurut kami juga sangat tidak sistematis, kita sibuk hal-hal yang entah apa, tiba-tiba ada obat, pokoknya benar-benar riuh sekali, apalagi di awal-awal," pungkasnya.



Simak Video "Zona Merah di DKI Jakarta Hanya Tersisa 1 Lokasi, di Mana?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)