Selasa, 25 Agu 2020 09:46 WIB

Kondisi Darurat Jadi Alasan FDA Izinkan Terapi Plasma untuk Pasien Corona

Firdaus Anwar - detikHealth
Pasien Covid-19 yang dinyatakan sembuh menyumbangkan plasma darah 
untuk penelitian antibodi Covid-19. (Foto ilustrasi: Getty Images/Alexander Hassenstein)
Jakarta -

Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) akhirnya mengizinkan penggunaan terapi plasma darah untuk mengobati pasien Corona. Terapi ini awalnya dipromosikan oleh Presiden Donald Trump, namun ditolak karena dianggap masih kurang bukti.

Keputusan FDA mengeluarkan izin karena kondisi darurat. Uji coba pada 70 ribu pasien yang sakit parah menunjukkan setidaknya terapi ini relatif aman.

Beberapa studi awal melihat pemberian plasma darah tampaknya mengurangi risiko kematian bila diberikan pada pasien kurang dari tiga hari setelah dirawat di rumah sakit. Hanya saja FDA menekankan perlu studi lebih lanjut untuk membuktikan efektivitas terapi.

"Tampaknya terapi ini aman dan kami cukup nyaman dengan itu. Sampai saat ini tidak ada sinyal bahaya yang mengkhawatirkan," kata salah satu direktur FDA, Peter Mark, seperti dikutip dari BBC pada Selasa (25/8/2020).

Pada umumnya prinsip terapi plasma sendiri adalah pemberian plasma darah pasien yang sudah dinyatakan sembuh virus Corona kepada pasien yang masih dalam pengobatan. Sebab, pasien yang sudah dinyatakan sembuh diketahui memiliki antibodi terhadap virus tersebut.

Namun perlu diingat, terapi plasma konvalasen ini sifatnya pengobatan untuk pasien dengan gejala berat. Bukan sebagai pencegahan terhadap infeksi virus Corona COVID-19.



Simak Video "Komunitas Relawan di Shanghai Turun Tangan Bantu Warga yang Karantina"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)