Selasa, 25 Agu 2020 11:46 WIB

Sesak Napas dan Cemas di Tengah Pandemi? Bisa Jadi Gejala Psikosomatik

Tim detikcom - detikHealth
ilustrasi stres Foto: Shutterstock
Yogyakarta -

Paparan informasi tentang virus corona atau COVID-19 yang berlebihan disebut dapat memicu rasa cemas, khawatir, serta stres. Bahkan tak jarang tubuh seperti merasakan gejala mirip COVID-19 usai menerima informasi terkait gejala infeksi virus Corona.

"Gejala yang muncul tersebut sebenarnya adalah manifestasi dari gangguan psikosomatik. Beberapa manifestasinya seperti sesak napas mirip dengan manifestasi infeksi COVID-19," jelas Spesialis Penyakit dalam Konsultan Psikosomatis Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FKKMK UGM) dr Noor Asyiqah Sofia, MSc, SpPD-KPsi, FINASIM, dalam keterangan tertulis yang dikirim Humas UGM, Selasa (25/8/2020).

Noor Asyiqah membagikan tips yang bisa dilakukan agar terhindar dari gangguan psikosomatis. Poin utamanya yakni dengan lebih sering meningkatkan respons relaksasi tubuh terhadap stres.

"Jangan lupa meningkatkan kualitas spiritual dan religiusitas," jelasnya.

Dia menyebut apabila sudah terjadi gangguan psikosomatik maka diperlukan pendekatan yang holistik dalam penanganannya. Pendekatan yang dimaksud yakni pendekatan terhadap gangguan psikis yang mendasari maupun pendekatan terhadap gangguan fisik yang terjadi akibat gangguan psikosomatik tersebut.

"Misalnya pada orang yang mengalami serangan sesak napas berulang yang dipicu oleh gangguan cemas. Selain penanganan pada keluhan sesak napasnya, yang tidak kalah penting adalah penanganan yang optimal terhadap gangguan cemasnya, baik berupa pemberian obat-obat anti cemas maupun pemberikan psikoterapi yang sesuai," paparnya.

Dia menjelaskan psikosomatik merupakan gangguan atau penyakit dengan gejala-gejala yang menyerupai penyakit fisik yang disebabkan faktor psikologis atau peristiwa psikososial tertentu. Hal itu umumnya terjadi akibat kurangnya kemampuan adaptasi seseorang dalam menghadapi stres.

"Jika sudah menjadi gangguan psikosomatik berarti bukan merupakan reaksi normal. Sebab, sudah terjadi gangguan pada fisik pasien," terangnya.

Psikosomatik, lanjut Noor Asyiwah, dapat terjadi melalui proses emosi, yaitu stres yang tidak mampu diadaptasi dengan baik. Lalu, emosi yang diproses oleh otak tersebut akan disalurkan melalui susunan saraf ke organ-organ tubuh. Misalnya, saluran pencernaan, saluran pernapasan, dan sistem hormonal.

Dia memberi contoh, misalnya pada individu yang merasa sesak napas, hal tersebut menandakan adanya gangguan psikosomatis di saluran pernapasan. Hal itu terjadi jika sesak napas yang didapat sangat dipengaruhi oleh kondisi psikis pasien.

Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa gangguan psikosomatik bisa terjadi baik pada orang yang sehat, tetapi bisa juga terjadi pada orang yang memang secara fisik sudah memiliki kelainan pada organ fisiknya.

Pada orang yang secara fisik sehat, gangguan psikosomatik ini akan menimbulkan manifestasi yang beragam, seperti sering berdebar-debar, keringat dingin, keluhan pencernaan seperti kembung mual, dan gangguan tidur.

Sementara itu, tuturnya, apabila gangguan psikosomatik ini terjadi pada orang yang secara fisik sudah sakit, maka gangguan psikosomatis bisa memperberat penyakit yang telah diderita. Selain itu, juga menurunkan kualitas hidup dan kepatuhan terhadap pengobatan.



Simak Video "Nasib Akupunktur di Masa Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)