Selasa, 25 Agu 2020 12:40 WIB

Ada Kasus Reinfeksi Corona di Hong Kong, Ini Kata Peneliti

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Mutasi virus corona yang membingungkan para ilmuwan Kata ahli soal reinfeksi Corona yang terjadi di Hong Kong. (Foto: BBC World)
Jakarta -

Hong Kong melaporkan adanya kasus reinfeksi virus Corona yang dialami pria berusia 33 tahun. Ia kembali terifeksi virus Corona setelah melakukan perjalanan ke Spanyol, dan kembali ke Hong Kong melalui Inggris.

Pria ini pertama kali dinyatakan positif terinfeksi COVID-19 pada akhir Maret lalu. Kemudian ia dinyatakan positif untuk kedua kalinya pada 15 Agustus setelah melakukan tes saat tiba di Hong Kong.

Kasus reinfeksi COVID-19 yang pertama dikonfirmasi ini pun menimbulkan pertanyaan terkait kekebalan terhadap virus tersebut. Para peneliti di Hong Kong dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melakukan penelitian untuk mengetahui langkah penanganan selanjutnya.

"Ini adalah dokumentasi pertama di dunia tentang seorang pasien yang pulih dari COVID-19, tetapi terinfeksi lagi setelahnya," kata para peneliti yang dikutip dari CNBC International, Selasa (25/8/2020).

Para ahli mengatakan, kasus di Hong Kong ini bisa menjadi sebuah peringatan akan adanya kasus serupa di seluruh dunia. Maka dibutuhkan penelitian dan pelacakan lebih lanjut terhadap pasien yang sudah pulih dari virus tersebut.

"Ada lebih dari 24 juta kasus yang dilaporkan hingga saat ini. Dan kita perlu melihat sesuatu seperti ini, pada tingkat populasi," kata ahli virus dari WHO, Maria Van Kerkhove.

Terkait imunitas atau antibodi terhadap COVID-19, para peneliti banyak menemukannya pada pasien yang sembuh dari virus tersebut. Hal ini pun menunjukkan bahwa pasien yang telah pulih dari infeksi Corona bisa terlindungi dalam beberapa waktu.

Namun saat ditanya seberapa lama seseorang yang telah pulih bisa tetap terlindungi dari virus itu lagi, Van Kerkhove belum mengetahui secara jelas. Sampai saat ini, ia pun masih meneliti kasus reinfeksi yang terjadi di Hong Kong tersebut.

"Apa yang kami pelajari tentang infeksi adalah bahwa orang akan kebal, tetapi yang belum sepenuhnya jelas adalah seberapa kuat dan berapa lama tanggapan kekebalan itu bisa bertahan," jelasnya.

Menurut laporan, saat terinfeksi pertama kalinya, pria Hong Kong tersebut mengalami gejala demam, batuk, sakit tenggorokan, hingga sakit kepala. Tetapi saat infeksi kedua ini ia tidak menunjukkan gejala apapun.

Hal ini membuat para peneliti berhipotesis bahwa penularan kedua ini lebih ringan daripada yang pertama kalinya. Menurut seorang ahli virus di Universitas Hong Kong, Malik Peiris, seseorang yang terinfeksi virus Corona lagi itu bukan hal baru.

"Fakta bahwa seseorang mungkin terinfeksi kembali tidaklah mengherankan," katanya.

"Tapi, infeksi ulang ini tidak menyebabkan penyakit, jadi itu poin pertama. Dan yang kedua, penting untuk mengetahui apakah pasien memiliki respons antibodi penetral terhadap infeksi pertama atau tidak. Karena sebagian besar pasien dalam pengalaman kami memiliki respon antibodi penetral yang baik. Jadi, apakah orang ini punya keunikan atau kemungkinan dia adalah orang biasa yang terinfeksi?," jelas Peiris.



Simak Video "Riset Ahli Soal Kasus Pasien Sembuh Corona Kembali 'Terinfeksi'"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/fds)