Rabu, 26 Agu 2020 15:01 WIB

Picu Pro-Kontra, Pedoman Terbaru CDC Sebut Tak Semua Perlu Tes Corona

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Covid-19: Bagaimana mutasi memberi petunjuk tentang penyebaran dan asal-usul virus corona CDC perbarui pedoman, tidak semua orang disebut perlu tes Corona. (Foto: BBC Magazine)
Jakarta -

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat AS (CDC) mengubah pedoman COVID-19 berkaitan dengan tes Corona. Pedoman CDC saat ini tidak lagi merekomendasikan tes Corona bagi mereka yang tidak menunjukkan gejala meskipun orang tersebut sebelumnya diketahui kontak dekat dengan dengan pasien Corona.

Sebelum diperbaharui, CDC sebelumnya mengimbau seseorang yang kontak pasien Corona perlu dites demi mencegah potensi penularan Corona dari asimptomatik atau pre-simptomatik. "Pengujian disarankan untuk semua kontak dekat orang dengan infeksi SARS-CoV-2. Karena potensi penularan tanpa gejala dan pra-gejala, penting bahwa kontak individu dengan SARS-CoV- 2 infeksi dengan cepat diidentifikasi dan diuji," demikian imbauan CDC sebelumnya.

Pedoman baru CDC

Kini, CDC menegaskan dalam pedoman terbarunya bagi orang yang setidaknya bertemu dalam beberapa menit dengan pasien Corona tidak perlu dites.

"Jika Anda telah melakukan kontak dekat dalam jarak 2 meter dengan seseorang yang terinfeksi COVID-19 setidaknya selama 15 menit, tetapi tidak memiliki gejala, Anda tidak perlu tes kecuali Anda seorang individu yang rentan atau penyedia layanan kesehatan Anda atau negara bagian atau pejabat kesehatan masyarakat setempat merekomendasikan Anda untuk tes Corona," kata CDC, dikutip dari CNN International.

"Tidak semua orang perlu diuji," kata CDC menekankan.

"Jika Anda menjalani tes, Anda harus mengarantina sendiri atau mengisolasi di rumah sambil menunggu hasil tes dan mengikuti saran dari penyedia layanan kesehatan Anda atau profesional kesehatan masyarakat," tulis CDC dalam laman resminya.

Dalam skenario perencanaan pandemi, CDC mengatakan perkiraan terbaiknya saat ini adalah bahwa 40 persen infeksi Corona tidak bergejala dan 50 persen penularan terjadi sebelum munculnya gejala. CDC tidak menjelaskan alasan perubahan tersebut dan banyak dokter kebingungan atas perubahan ini.

Pro dan kontra terkait pedoman CDC yang diubah

"Saya khawatir bahwa rekomendasi ini menunjukkan bahwa seseorang yang telah terpapar secara substansial dengan orang dengan COVID-19 sekarang tidak perlu menjalani tes," kata Dr Leana Wen, seorang dokter darurat dan profesor kesehatan masyarakat di Universitas George Washington.

"Ini adalah kunci untuk pelacakan kontak, terutama mengingat bahwa hingga 50 persen dari semua penularan disebabkan oleh orang yang tidak memiliki gejala. Orang bertanya-tanya mengapa pedoman ini diubah - apakah itu untuk membenarkan defisit pengujian yang berkelanjutan?" lanjutnya.

Sementara itu, seorang juru bicara di Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) membantah perubahan itu akan mempengaruhi upaya pelacakan kontak, yang menurut sebagian besar pejabat kesehatan masyarakat adalah kunci untuk pengendalian virus Corona. "Panduan yang diperbarui tidak merusak pelacakan kontak atau jenis pengujian pengawasan lainnya," kata juru bicara itu.

HHS mengatakan masyarakat harus berkonsultasi dengan dokter mereka atau dengan pejabat kesehatan setempat untuk memutuskan apakah mereka perlu menjalani tes. "Panduan tersebut sepenuhnya mendukung pengujian pengawasan kesehatan masyarakat, yang dilakukan secara proaktif melalui pejabat kesehatan masyarakat federal, negara bagian, dan lokal," sebut juru bicara tersebut.



Simak Video "CDC Salah Posting soal Penularan Virus Corona Lewat Airborne"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)