Selasa, 01 Sep 2020 05:18 WIB

Round Up

Mutasi Corona D614G Juga Ada di Jakarta, Benarkah 10 Kali Lebih Menular?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Puskesmas Kecamatan Gambir aktif melakukan tes swab mencari orang tanpa gejala yang terinfeksi COVID-19. Mereka menyasar petugas PPSU dan para pedagang pasar. Virus Corona COVID-19 (Foto: Agung Pambudhy)
Topik Hangat Mutasi Corona D614G
Jakarta -

Baru-baru ini, terungkap bahwa mutasi virus Corona D614G ditemukan juga di Indonesia. DKI Jakarta termasuk salah satu kota yang memiliki mutasi virus Corona D614G.

Kabar ini sempat bikin heboh, karena mutasi virus Corona D614G disebut-sebut 10 kali lebih menular. Strain yang sebelumnya dominan ditemukan di Eropa dan AS tersebut, belakangan juga ditemukan di beberapa negara Asia seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Temuan mutasi Corona D614G ini dikonfirmasi oleh Direktur Lembaga Biologi Molekuler Eijkman (LBME), Prof Amin Soebandrio. Ada lima kota yang disebut Prof Amin memiliki mutasi Corona D614G. Berikut daftarnya.

  • DKI Jakarta
  • Tangerang
  • Jogja
  • Bandung
  • Surabaya

Benarkah 10 kali lebih menular?

Prof Amin menjelaskan bahwa mutasi virus Corona D614G memang dikaitkan dengan kecepatan penularan. Namun, hal ini masih sebatas hipotesis yang diuji di lab. Artinya, belum ada kesimpulan yang pasti mengenai hal itu.

"Jadi belum terbukti di komunitas," kata Prof Amin.

Senada dengan Prof Amin, pakar biologi molekuler Ahmad Risdan Handoyo Utomo, PhD menyebut belum ada bukti bahwa mutasi yang ditemukan membuat virus menguat atau melemah. Masing-masing mutasi memberikan gejala yang beragam.

"Jadi misalnya 100 orang yang kena D, 100 orang kena G. Kan kalau misalnya 100 orang yang kena D dikatakan lebih ringan, berarti yang kena D nggak ada yang berat kan (gejalanya). Nah ternyata setelah dicek ada juga yang lebih berat," jelas Ahmad.

Sementara itu, guru besar Universitas Airlangga (Unair) Prof Chairul A Nidom menganggap temuan mutasi D614G di Indonesia bukan hal yang aneh. Bahkan jika lebih banyak dilakukan sequencing, mutasi tersebut mungkin akan lebih banyak ditemukan. Namun tidak langsung bisa diartikan lebih menular.

"Jadi kalau itu sebetulnya dugaan bahwa dengan perubahan atau mutasi dari (D) asam aspartat ke (G) glisin di no 614 itu bisa mempercepat penularan, tetapi belum ada bukti, artinya bagaimana mempercepatnya," kata prof Nidom.

Kenapa Corona terus bermutasi?

Bagi sebagian orang, mungkin muncul pertanyaan mengapa virus Corona bisa terus bermutasi? Apakah hal yang mendasarinya?

"Virus corona itu memang virus RNA. Iya jadi mereka ketika bereplikasi itu secara acak, memang terus bermutasi untuk memperbaiki diri," beber Prof Amin. .

"Dan juga untuk menyesuaikan dengan lingkungan," lanjutnya.



Simak Video "Menristek Jelaskan Mutasi Corona D614G Belum Teruji Lebih Ganas"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)
Topik Hangat Mutasi Corona D614G