Rabu, 02 Sep 2020 12:31 WIB

Stafsus Kemenkes Jelaskan Masalah 'Inkonsistensi' Protokol Kesehatan

Firdaus Anwar - detikHealth
Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Sumber Daya Manusia Kesehatan, dr Mariya Mubarika, Stafus Menkes dr Mariya Mubarika. (Foto: Firdaus Anwar/detikHealth)
Jakarta -

Di awal pandemi COVID-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) awalnya tidak merekomendasikan semua orang memakai masker, namun seiring berjalannya waktu protokol kesehatan yang berlaku berubah menjadi semua orang harus memakai masker. Begitu juga dengan kebijakan kerja dari rumah yang awalnya digaungkan, sekarang kantor dan tempat usaha dibuka kembali dengan syarat tertentu.

Staf Khusus Menteri Kesehatan Bidang Peningkatan Sumber Daya Manusia Kesehatan, dr Mariya Mubarika, menjelaskan perubahan-perubahan kebijakan tersebut sebetulnya bukan bentuk inkonsistesi pemerintah. Kebijakan berubah karena pengetahuan tentang virus Corona COVID-19 terus berkembang.

Masker awalnya tidak disarankan karena dianggap prioritas untuk tenaga medis. Namun kemudian studi-studi bermunculan menemukan bahwa risiko penularan di tengah masyarakat dapat ditekan bila semua memakai masker.

"Jadi itu bukan sebuah inkonsistensi... Perubahan-perubahan terhadap protokol kesehatan itu bukan sebuah inkonsistensi, tetapi itu mengikuti sains terbaru," kata dr Mariya pada acara kampanye Disiplin Pakai Masker di kawasan Jababeka, Rabu (2/9/2020).

Sementara kebijakan kerja dari rumah atau Work From Home (WFH) berubah karena menurut dr Mariya upaya pembatasan yang berlebihan disebut dapat menyebabkan kelumpuhan ekonomi yang juga akan berdampak besar untuk kesehatan.

Banyak masyarakat stres karena masalah ekonomi. Dampaknya imunitas malah menurun sehingga lebih berisiko jatuh sakit.

"Pada bulan April pertengahan WHO sudah mengeluarkan statement bagaimana mengendalikan pandemi tanpa lockdown. Karena ternyata lockdown itu pukulan ekonominya terlalu berat, kita menghadapi masalah yang lebih berat lagi," tutup dr Mariya



Simak Video "Ahli Epidemiologi Soroti Lonjakan Kasus Corona di Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/kna)