Rabu, 16 Sep 2020 12:30 WIB

Kisah Anak 9 Tahun Terinfeksi Corona, Berjuang Lawan Gejala Lebih dari 6 Bulan

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak Kisah anak 9 tahun terinfeksi Corona, berjuang lawan gejala COVID-19 lebih dari 6 bulan. . (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Virus Corona tidak memandang usia. Meskipun anak-anak disebut menghadapi risiko kecil terhadap COVID-19, tetapi anak berusia 9 tahun ini terpapar Corona dengan mengidap gejala yang tak kunjung hilang selama berbulan-bulan.

Bahkan ayah dari anak bernama Eli Lipman ini juga tengah berjuang melawan dampak COVID-19. Eli, anak berusia 9 tahun ini mengidap COVID-19 sejak Maret silam.

Di usianya yang masih sangat muda, Eli selalu mengeluh gejala yang kerap dirasakannya. Seperti rasa sakit dan lelah yang muncul tanpa aba-aba, membuat Eli sering kesulitan tidur.

Bahkan, Eli menggambarkan rasa sakit yang ia hadapi seperti sedang 'menabrak dinding' terus menerus. "Tubuhku seperti 'tidak' (bisa tidur)," keluh anak berusia 9 tahun itu.

Sang ayah, Jonathan Lipman, mengatakan dokter pada awalnya mengabaikan Eli dengan gejala COVID-19-nya berkali-kali. Bahkan usai mereka mengalami gejala selama berbulan-bulan dan mengidap demam ringan terus menerus.

"Tidak ada yang benar-benar mempercayai kami bahwa kami masih sakit, dan ketika Anda terus tidak dipercaya, Anda berhenti memercayai diri sendiri," kata Lipman, dikutip dari CNN International.

Lipman masih melawan gejala COVID-19. Dia mengatakan hampir setiap pagi dia bangun dengan rasa sakit yang mirip seperti sedang mematahkan bahunya.

Dia tidak bisa naik tangga tanpa terengah-engah, dan bahkan tidak bisa memasak makan malam untuk keluarganya seperti yang dia sukai, karena dia selalu merasa lemas. Dr. William Li, yang sedang meneliti pasien Corona secara jarak jauh, mengatakan bahwa masih banyak yang harus dipelajari, masalahnya kemungkinan besar melibatkan pembuluh darah.

"Salah satu hal penting adalah tetap berbicara dengan dokter Anda, dan dokter perlu tetap mendengarkan pasien Anda," kata Li.

"Benar-benar ada sesuatu yang terungkap di depan mata kita yang kita butuhkan di depan mata kita yang kita butuhkan untuk benar-benar berkumpul dengan pasien kita dan dengan diri kita sendiri sebagai peneliti dan sebagai dokter untuk mencoba membantu penyembuhan," bebernya.



Simak Video "Mari Lakukan Protokol Kesehatan untuk Membantu Sesama"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)