Kamis, 17 Sep 2020 19:01 WIB

6 Klaster Corona di Indonesia, dari Gowes Hingga Perkantoran

Ayunda Septiani - detikHealth
Folder of Coronavirus covid19 2019 nCoV outbreak 6 klaster Corona di Indonesia, dari gowes hingga perkantoran. (Foto: Getty Images/iStockphoto/oonal)
Jakarta -

Kasus positif Corona COVID-19 di Indonesia terus mengalami peningkatan. Data terakhir dari Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 pada Rabu, (16/9/2020) jumlah kasus positif Corona di Indonesia sudah mencapai angka 228.993.

Peningkatan kasus Corona di Indonesia dikaitkan dengan kemunculan klaster-klaster sebagai penyumbang kasus baru Corona. Dikutip dari berbagai sumber, berikut 6 klaster Corona di Indonesia mulai dari klaster perkantoran hingga pasar.

1. Klaster perkantoran

Perkantoran disebut sebagai salah satu tempat berisiko tinggi penularan Corona. Ketua tim Pakar sekaligus Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Prof Wiku Adisasmito mengakui bahwa klaster perkantoran saat ini menjadi perhatian masyarakat. Banyak orang yang terpapar karena berada dalam satu ruang kerja yang sama.

"Klaster itu disebut klaster apabila terjadi konsentrasi kasus di suatu tempat, dan klaster yang sekarang sedang marak jadi perhatian masyarakat adalah klaster perkantoran," jelas Prof Wiku, Jumat (7/8/2020).

Prof Wiku menjelaskan bahwa munculnya klaster perkantoran dapat berasal dari pemukiman atau bahkan dalam perjalanan menuju kantor.

"Sebenarnya orang yang berkantor itu kan asalnya dari rumah, dari pemukiman, jadi pastinya di pemukiman juga pasti ada klaster kalo di kantor ada klaster dan itu mereka bisa tertularnya bisa di tempat perumahannya atau di rumah atau di dalam perjalanannya menuju kantor," tambahnya.

2. Klaster rumah makan

Selain klaster perkantoran, klaster rumah makan juga disebut-sebut menjadi penyumbang naiknya kasus Corona. Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang menyampaikan ada klaster baru virus Corona atau COVID-19 di wilayahnya dari sebuah rumah makan. Kasus ini berawal dari salah seorang pegawai yang sakit.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Moh Abdul Hakam membenarkan ada klaster baru virus Corona dari rumah makan Kepala Manyung Bu Fat yang terletak di Kelurahan Krobokan, Semarang itu.

"Memang ada klaster baru Krobokan, kan tadinya mulus tidak ada kasus. Awalnya salah satu yang kerja di situ (warung Kepala Manyung Bu Fat) dirawat di rumah sakit," kata Hakam usai acara di kantor DPRD Kota Semarang, Jumat (11/9/2020).

Hakam menjelaskan pembeli dalam kurun waktu 14 hari yang pernah ke warung tersebut bisa memeriksakan diri ke Puskesmas untuk swab. Mengingat warung tersebut dekat dengan akses ke bandara dan cukup laris karena terkenal.

3. Klaster keluarga

Penyebaran virus Corona COVID-19 di antara keluarga atau klaster keluarga juga menjadi kekhawatiran baru di tengah pandemi virus Corona COVID-19 saat ini. Beberapa wilayah seperti di Bogor, Bekasi, Yogyakarta, Semarang, dan Malang mulai melaporkan adanya kasus transmisi Corona antar anggota keluarga.

Dijelaskan Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Paru Indonesia (PDPI) beberapa waktu lalu, dr Erlang Samoedro SpP(K), klaster keluarga terjadi ketika salah satu anggota keluarga terinfeksi lalu menularkan ke keluarga lainnya. Biasanya orang pertama yang tertular mendapat virus Corona dari luar rumah, misalnya orang tua yang bekerja atau bepergian kemudian akhirnya tertular dan membawa penyakit tersebut ke dalam rumah.

4. Klaster pasar

Di awal Juni, tercatat sebanyak 52 pedagang yang tersebar di lima pasar tradisional DKI Jakarta terpapar virus Corona. Direktur Utama Perumda (PD) Pasar Jaya Arief Nasrudin mengatakan, pihaknya akan menutup pasar yang pedagangnya positif COVID-19.
Beberapa daerah yang juga melakukan tes masif virus Corona di pasar tradisional menemukan adanya pedagang yang terpapar COVID-19, seperti di Padang dengan 113 kasus yang terjadi di Pasar Raya Padang.

Pasar tradisional memang menjadi tempat yang cukup rawan dalam kaitannya dengan potensi penyebaran virus Corona. Pakar kesehatan sekaligus Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, menyebut pasar tradisional bisa menjadi klaster penyebaran COVID-19.

"Benar (bisa jadi kluster) kan sudah terjadi. Saya rasa di beberapa tempat sudah terbukti bahwa pasar bisa jadi kluster karena ditemukan pedagang-pedagang yang positif," kata dr Ari saat dihubungi detikcom, Jumat (12/6/2020).

Berbeda dengan pusat perbelanjaan modern, arus keluar masuk di pasar tradisional tidak bisa dikontrol dan tidak semua pasar telah menerapkan protokol kesehatan bagi pengunjung seperti pengecekan suhu tubuh.

5. Klaster pemukiman

Tim Pakar Satuan Tugas COVID-19, Dewi Nur Aisyah, beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa klaster permukiman jadi penyumbang kasus positif Corona terbanyak di Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Timur.

"Kita mengambil klaster di DKI Jakarta, Jawa Timur juga sama bahwa klaster tertinggi yaitu klaster yang berasal dari permukiman atau lokal transmisi," jelasnya Dewi dalam siaran Youtube BNPB, Senin (3/8/2020).

"Jadi artinya ada seseorang yang positif kemudian mungkin yang ia tulari adalah keluarga, keluarga sudah keburu belanja ke warung, dia ikut arisan, misalnya, akhirnya mengenai orang lain dalam satu wilayah yang sama," lanjutnya.

6. Klaster gowes

Bersepeda atau gowes di tengah pandemi Corona menjadi banyak digemari. Namun di samping itu ternyata berkerumunan saat gowes bisa menjadi pusat penularan virus Corona.

Beberapa waktu lalu, 21 tenaga kesehatan di RSUD Ngudi Waluyo, Wlingi, Blitar, positif virus Corona. Mereka diduga tertular virus Corona dari komunitas gowes.

Menanggapi hal ini, dr Risayogi Sitorus, dokter sekaligus pegiat olahraga sangat menyayangkan karena masih banyak pegowes yang mengabaikan protokol kesehatan. Menurutnya, hal ini terjadi saat mereka berkerumun dan lanjut melakukan kegiatan lain setelah bersepeda.

"Dipamerkan di media sosial, orang lihat dan ikut-ikutan. Makin ramai, pelanggaran terjadi, berkumpul menjadi lebih dari lima orang," jelas dr Risayogi pada detikcom, beberapa waktu lalu.

"Akhirnya makin kencang, formasi bersepeda lebih rapat. Intensitas makin tinggi, akhirnya lepas masker. Intensitasnya tinggi, rapat, lebih dari lima orang, dan ramai," lanjutnya.



Simak Video "Siapkah Indonesia Hadapi Varian Corona yang Lebih Ganas?"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)