Jumat, 18 Sep 2020 11:35 WIB

China Temukan Ribuan Orang Terinfeksi Bakteri dari Limbah Pabrik

Ayunda Septiani - detikHealth
Pengendara motor berjalan di Jalan Inspeksi Kali Buaran yang berbusa di Malaka Sari, Jakarta Timur, Rabu (15/7/2020). Busa ini diduga berasal dari limbah rumah tangga yang mencemari kali tersebut. Ilustrasi limbah pabrik. (Foto ilustrasi: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Ribuan orang di kawasan barat laut China setelah dites dinyatakan positif mengidap penyakit akibat terinfeksi oleh bakteri. Bakteri tersebut bisa muncul usai adanya kebocoran di limbah pada sebuah perusahaan biofarmasi pada tahun lalu.

Dikutip dari laman CNN International, Komisi Kesehatan Lanzhou, ibu kota Provinsi Gansu, memastikan 3.245 orang telah terjangkit penyakit brucellosis.

Jumlah tersebut bertambah setelah sebelumnya ada 1.401 orang lainnya yang dinyatakan positif. Komisi Kesehatan menyatakan tidak ada korban jiwa karena wabah tersebut.

Penyakit yang juga dikenal sebagai demam Malta atau demam Mediterania ini dapat menyebabkan gejala seperti sakit kepala, nyeri otot, demam, dan kelelahan.

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat meskipun gejala yang dirasa mungkin akan mereda, tetapi beberapa gejala bisa menjadi kronis atau tidak pernah hilang, seperti radang sendi atau pembengkakan pada organ tertentu.

Lebih lanjut CDC menambahkan penularan penyakit tersebut dari manusia ke manusia sangat jarang terjadi. Kebanyakan orang terinfeksi dengan makan makanan yang terkontaminasi atau menghirup bakteri. Hal demikian yang saat ini diduga tengah terjadi di Lanzhou.

Menurut Komisi Kesehatan Lanzhou, wabah ini berasal dari kebocoran di pabrik farmasi biologis Zhongmu terjadi antara akhir bulan Juli hingga akhir Agustus tahun lalu.

Pabrik pada saat itu tengah memproduksi vaksin Brucella untuk hewan. Pabrik menggunakan disinfektan dan pembersih kadaluarsa, yang artinya tidak semua bakteri dibasmi dalam limbah gas.

Gas limbah yang terkontaminasi ini kemudian membentuk aerosol yang mengandung bakteri dan menyebar ke udara, lalu terbawa angin ke Institut Penelitian Hewan Lanzhou, tempat wabah tersebut pertama kali melanda.

Orang-orang di institut tersebut mulai melaporkan infeksi pada bulan November, dan saat itu meningkat dengan cepat. Menurut kantor berita pemerintah China, Xinhua, pada akhir Desember 2019 lalu setidaknya ada 181 orang di institut itu telah terinfeksi brucellosis.

Beberapa bulan setelah wabah, pejabat provinsi dan kota meluncurkan penyelidikan kebocoran di pabrik. Pada Januari pihak berwenang telah mencabut izin produksi vaksin untuk pabrik tersebut, dan mencabut nomor persetujuan produk untuk dua vaksin Brucellosisnya.

Pada Februari, pihak pabrik telah menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat, dan mengatakan telah menghukum delapan orang yang dianggap bertanggung jawab atas insiden tersebut.

Pabrik juga menyatakan akan bekerja sama dengan lembaga pemerintah setempat dalam upaya untuk pembersihan, dan berkontribusi pada program ganti rugi bagi mereka yang terkena dampak tersebut.

Brucellosis sebelumnya telah terjadi di China pada 1980-an, meskipun sejak itu menurun dengan munculnya vaksin dan pencegahan dan pengendalian penyakit yang lebih baik. Namun wabah brucellosis juga terjadi di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir.

Seperti di Bosnia, yang telah menginfeksi sekitar seribu orang pada tahun 2008, sehingga memicu pemusnahan domba dan ternak lain yang terinfeksi.



Simak Video "Mengandung Bakteri Listeria, Kementan Musnahkan Jamur Enoki"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)