Sabtu, 19 Sep 2020 13:00 WIB

Fakta-fakta Masker Scuba-Buff yang Penggunaannya Dilarang di KRL

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Larangan masker scuba di KRL Larangan masker scuba di KRL. (Foto: Achmad Reyhan Dwianto/detikHealth)
Jakarta -

PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) mulai Senin, 21 September mewajibkan calon penumpang KRL untuk menggunakan masker kain 3 lapis atau masker kesehatan. Dalam penjelasannya, PT KCI tidak menyebut masker scuba atau buff sebagai jenis masker yang boleh digunakan saat naik KRL.

"Mulai Senin (21/9) KCI mewajibkan seluruh penggunanya untuk memakai masker yang terbukti efektif dalam mencegah droplet atau cairan yang keluar dari mulut dan hidung," ujar VP Corporate Communications PT KCI Anne Purba, dalam keterangannya, Jumat (18/9/2020).

Memakai masker terbukti jadi cara yang paling efektif dalam mencegah penularan virus Corona. Memakai masker di area publik juga cara yang sangat baik untuk mencegah penularan COVID-19 antar-manusia.

Ketika stok masker kesehatan seperti masker bedah dan masker N95 menipis, masyarakat disarankan untuk beralih menggunakan masker kain sebagai langkah pencegahan Corona. Masker bedah dan masker N95 lebih diperuntukkan bagi tenaga medis yang menangani pasien COVID-19.

Meski penggunaannya lebih disarankan, ternyata tidak semua jenis masker kain efektif untuk menghalau droplet dan mencegah paparan virus Corona. Beberapa studi memperlihatkan masker berbahan scuba tidak terlalu efektif menekan penularan virus Corona.

Berikut sederet fakta soal masker scuba-buff seperti yang dirangkum detikcom.

Kekurangan Masker Scuba-Buff

Masker kain yang disarankan yakni masker dengan tiga lapis. Dalam penjelasan PT KCI, masker scuba dan buff hanya 5 persen efektif dalam mencegah risiko terpapar virus.

Senada dengan hal tersebut, jubir Satgas COVID-19 Prof Wiku Adisasmito menyarankan pengguna KRL untuk tidak memakai masker scuba-buff karena terlalu tipis sehingga dikhawatirkan tidak bisa menyaring droplet penyebab COVID-19.

"Masker scuba atau buff ini adalah masker satu lapis saja dan terlalu tipis sehingga kemungkinan untuk tembus dan tidak bisa menyaring lebih besar, maka dari itu disarankan menggunakan masker yang berkualitas," kata Prof Wiku.

Kemampuan filtrasi masker scuba rendah

Spesialis paru dari RS Persahabatan, dr Erlina Burhan MSc, SpP, mengatakan kemampuan filtrasi masker scuba sangat rendah sehingga tidak akan memberikan proteksi yang layak bagi penggunanya. Pori-pori masker scuba juga sangat lebar, sama seperti tidak pakai masker.

"Masker scuba itu jangan dipakai, karena kemampuan filtrasinya sangat rendah hanya 0 sampai 5 persen. Itu kan bahannya sangat-sangat elastis ya dan hanya satu lapis, jadi tidak melindungi," tegas dr Erlina.

Bisakah dilapisi tisu?

Anjuran untuk tidak pakai masker scuba memunculkan ide untuk melapisinya dengan tisu agar lebih efektif menyaring virus Corona. Namun pendapat pakar terbelah soal itu.

Menurut peneliti sekaligus staf ahli Gugus Tugas COVID-19 Jawa Tengah Dr dr Budi Laksono, MHSc, masker scuba masih efektif digunakan jika dipakai double dengan dilapisi tisu.

"Saya kira (masker scuba dilapisi tisu) menjadi jalan tengah supaya bagaimanapun scuba itu juga bisa sehat di pakai, kan begitu," kata dr Budi

Namun tidak semua pakar sependapat. Dokter paru dari RS Persahabatan dr Erlina Burhan, SpP(K) menekankan sifat tisu yang mudah basah, sehingga tidak efektif. Belum lagi tekstur scuba yang sangat elastis membuat tisu mudah bergeser lalu jatuh.

"Jadi nggak ada gunanya juga," tegas dr Erlina.



Simak Video "Masker Buff dan Scuba Tak Disarankan Dipakai di KRL, Ini Alasannya"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)