Senin, 28 Sep 2020 16:07 WIB

BPS: 17 Persen Warga Remehkan COVID-19, Level Pendidikan Berpengaruh

Ayunda Septiani - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Virus Corona COVID-19 (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Kisah penularan Corona yang terjadi di keluarga tidak sedikit bermunculan. Pasalnya, masih banyak yang masih merasa aman saat berada di lingkungan orang terdekat dan mengabaikan protokol COVID-19.

Menurut hasil 'Survei Perilaku Masyarakat di Masa Pandemi Covid-19' yang dilakukan dari tanggal 7 hingga 14 September, terungkap bahwa ada 17 persen yang merasa begitu yakin tidak akan tertular COVID-19. Tingginya persepsi tersebut dikaitkan dengan pendidikan masing-masing orang.

"Persepsi kemungkinan terinfeksi, di sana masih kelihatan bahwa 17 persen atau 17 dari 100 responden tu mengatakan bahwa mereka sangat tidak mungkin atau tidak mungkin tertular COVID-19," ungkap Kepala Badan Pusat Statistik, Dr Suhariyanto dalam siaran pers BNPB melalui kanal YouTube Senin (28/9/2020).

"Jadi masih ada 17 persen. Saya pikir persentase ini lumayan tinggi, jadi mereka yakin bahwa mereka itu tidak akan tertular atau tidak mungkin tertular. Jadi kita lihat dari jenis kelamin tidak ada perbedaan, laki perempuan sama saja," lanjutnya.

Ia menyebut jika pendidikan cenderung rendah, mereka begitu percaya tidak akan terpapar COVID-19. Sementara orang yang memiliki pendidikan tinggi mempunyai kesadaran yang tinggi akan bahaya COVID-19.

Distribusi warga yang yakin tidak mungkin tertular COVID-19 berdasarkan tingkat pendidikan adalah sebagai berikut:

  • SD 33,69 persen
  • SMP 32,5 persen
  • SMA/SMK 25,48 persen
  • Diploma/sarjana 13,41 persen.


Simak Video "Satgas Sebut Banyak Orang Masih Tak Percaya Bahaya Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)