Rabu, 30 Sep 2020 12:44 WIB

Bullying atau Bukan? Ini Kata Psikolog Soal Bangku Kosong untuk Terawan

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto (kanan) berbincang dengan anggota DPR Dewi Asmara saat akan mengikuti rapat kerja dengan Komisi IX DPR di kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (11/6/2020). Rapat yang juga diikuti Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy itu membahas penanggulangan defisit dana jaminan sosial BPJS Kesehatan dan perbaikan tata kelola sistem layanan kesehatan. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/aww. Menkes Terawan Agus Putranto (Foto: ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA)
Jakarta -

Heboh tayangan Mata Najwa yang menampilkan 'bangku kosong' seolah tengah berbincang dengan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Tayangan Mata Najwa yang menyindir minimnya kemunculkan Terawan di tengah pandemi COVID-19 menuai pro-kontra.

Ada yang menyebut hal ini termasuk bullying lantaran dinilai menyudutkan Menkes Terawan. Pendapat psikolog mengenai hal ini pun beragam.

Menurut psikolog sekaligus konselor Rahma Nuzulia Tristinarum, apa yang dilakukan Najwa dalam tayangan Mata Najwa sama sekali tidak termasuk tindakan bullying. Bisa saja hal ini adalah sikap untuk meluruskan apa yang ditanyakan masyarakat selama pandemi Corona.

"Jika mengacu pada pengertian bullying di antaranya adalah berupa sikap dan perilaku yang menyakiti seseorang secara berulang, baik secara fisik maupun psikis, maka yang Najwa lakukan bukan termasuk tindakan bullying," ungkapnya saat dihubungi detikcom Rabu (30/9/2020).

"Bisa jadi acara tersebut adalah sebagai media untuk meneruskan aspirasi masyarakat," bebernya.

Rahma menjelaskan sikap bullying sendiri bertujuan untuk menyakiti seseorang dan dilakukan secara berulang. Bullying sangat merugikan baik dilakukan secara fisik, verbal, maupun non verbal.

Perilaku bullying tidak selalu memiliki kuasa lebih dibanding orang yang terbully. Bahkan Rahma menyebut tidak jarang kasus bullying terjadi pada orang yang memiliki posisi atau kuasa yang sama.

"Bullying tidak selalu dilakukan oleh orang yang punya kuasa kepada pihak yang lebih lemah. Seringkali justru dengan posisi yang relatif sama, hanya satu pihak biasanya merasa terancam atau punya tujuan tertentu sehingga membully pihak lainnya," jelasnya.

Sementara itu, psikolog klinis Kasandra Putranto dari Kasandra & Associate menilai tayangan bangku kosong tersebut bisa saja termasuk bullying. Sebab, adanya rasa tidak nyaman atau emosi-emosi negatif yang timbul dari sikap seseorang bisa masuk ke dalam kategori bullying.

"Dalam hal ini yang terpenting adalah bagaimana reaksi dan respons dari bapak Menteri Terawan selaku orang yang paling terkena oleh perilaku ini, yang bisa disebut sebagai korban langsung," jelas Kasandra saat dihubungi detikcom Rabu (20/9/2020).

Kasandra menilai tak hanya Menkes Terawan yang akan mengalami dampaknya. Orang-orang yang kemudian merasa emosi setelah menonton tayangan tersebut bisa menjadi korban tidak langsung.

"Namun ketika masyarakat merasakan emosi negatif tentu saja dengan demikian sudah dapat disimpulkan sebagai perilaku bullying," lanjutnya.

Jadi, termasuk bullying atau bukan? Tinggalkan jejak di komentar.



Simak Video "Sering Dipertanyakan, Ini Lho Mandat Jokowi untuk Terawan Atasi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)