Kamis, 01 Okt 2020 14:47 WIB

5 Fakta Remdesivir yang Disetujui BPOM RI untuk Obat COVID-19

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Obat Covid-19: Rumah sakit Inggris gunakan remdesivir yang disebut langkah maju terbesar dalam penanganan pasien corona BPOM RI menyetujui penggunaan remdesivir untuk pasien COVID-19. (Foto: BBC World)
Jakarta -

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah menyutujui penggunaan remdesivir untuk pengobatan pasien virus Corona COVID-19 di Indonesia. Obat ini pun akan diuji coba terlebih dahulu pada 25 pasien di RS Persahabatan, Jakarta timur.

"Sebagai obat yang memang merupakan salah satu yang masuk kepada protokol pengobatan, tentu saja para dokter bergembira, dan untuk pertama kalinya remdesivir ini akan kita uji cobakan di RS Persahabatan ya, untuk di awal pada 25 pasien," kata dokter paru dari RS Persahabatan, dr Erlina Burhan, MSc, SpP, Kamis (1/10/2020).

Dirangkum detikcom, berikut 5 fakta tentang remdesivir, obat yang telah disetujui BPOM RI untuk pengobatan pasien COVID-19.

1. Awalnya untuk mengobati Ebola

Dikutip dari situs resmi Gilead, remdesivir merupakan obat dengan aktivitas antivirus yang belum disetujui penggunaannya di manapun di seluruh dunia. Namun uji coba terbatas pada MERS (Middle East Respiratory Syndrome) dan SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) menunjukkan adanya kemungkinan dipakai pada COVID-19.

Perusahaan farmasi Amerika Serikat, Gilead Sciences Inc, awalnya mengembangkan obat ini untuk mengatasi Ebola dan virus Marburg.

2. Mempersingkat waktu pemulihan

Dikutip dari Fox News, remdesivir berhasil meningkatkan waktu pemulihan pasien COVID-19 sebesar 31 persen dalam uji coba yang dipimpin oleh Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular Amerika Serikat (AS). Dalam studi AS, pasien yang memenuhi syarat untuk mendapat remdesivir sebagai obat Corona adalah pasien yang menggunakan ventilasi atau dalam kondisi kritis.

Penggunaan remdesivir diberikan pada pasien COVID-19 dewasa yang memiliki saturasi oksigen kurang dari 94 persen, atau memerlukan tambahan oksigen, dukungan pernapasan, seperti dari ventilator.

3. Dipakai banyak negara

Ada banyak negara yang menggunakan remdesivir untuk mengobati pasien COVID-19 termasuk Amerika Serikat. Di antaranya Singapura, Taiwan, Korea Selatan, dan di beberapa negara Eropa.

European Medicines Agency (EMA) mengatakan, komite produk obat untuk penggunaan manusia (CHMP) telah merekomendasikan obat itu untuk mengobati COVID-19. Ini diberikan pada orang lanjut usia dan remaja di atas 12 tahun dengan pneumonia yang membutuhkan bantuan oksigen.

"Remdesivir disetujui secara bersyarat yang biasa dilakukan dalam mekanisme untuk memenuhi kebutuhan medis yang belum terpenuhi. Ini termasuk dalam situasi darurat seperti pandemi ini," kata EMA, dikutip dari Fox News, Jumat (26/6/2020).

4. Remdesivir dijual seharga 3 juta rupiah

President Director of PT Kalbe Farma Tbk dalam konferensi pers Kalbe dan PT Amarox Pharma Global, Kamis (1/10/2020) menjelaskan remdesivir sudah siap dipasarkan dan didistribusikan ke seluruh provinsi di Indonesia.

"Bahwa harga saat ini Rp 3 juta per vial. Dan ini harga sebelumnya sangat tergantung volume, kalau meningkat bisa ditinjau kembali. Semua sudah diapprove oleh BPOM untuk emergency used dan juga ada clinical trial," tambah Vidjongtius.

5. Hanya untuk pasien kritis COVID-19

Penggunaan remdesivir di beberapa negara diketahui hanya ditujukan untuk pasien COVID-19 yang mengalami kondisi kritis. Umumnya pasien COVID-19 yang memiliki kriteria dengan saturasi oksigen di bawah 94.



Simak Video "Tips dan Trik Pilih Obat Herbal Tradisional yang Legal"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)