Sabtu, 03 Okt 2020 05:51 WIB

Niat Banget! Bayar Jutaan untuk Swab Mandiri Gara-gara Tracing Kelamaan

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Virus Corona COVID-19 (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Pelacakan kontak atau contact tracing adalah salah satu upaya untuk menghentikan transmisi COVID-19. Idealnya, apabila ada seseorang di lingkaran dekat yang positif COVID-19, misalnya dalam satu keluarga, tim investigasi atau kontak tracing akan melakukan tes swab yang bertujuan untuk menghentikan rantai penularan.

Hanya saja, penelusuran kontak yang dilakukan tim investigasi tidak selalu menjangkau semua kontak erat. Banyak dari kontak dekat pasien Corona yang akhirnya pilih swab mandiri karena tak ada penelusuran yang dilakukan oleh puskesmas atau dinas kesehatan.

Persoalannya, biaya swab mandiri tak murah. Perlu merogoh kocek sekitar Rp 1 juta untuk sekali tes swab mandiri. Hal ini dirasakan oleh Bimo, yang akhirnya melakukan tes swab mandiri setelah salah satu anggota keluarganya terindikasi positif COVID-19.

"(Swab mandiri) karena gue sadar gue tinggal serumah, dan rumah gue itu nggak terlalu besar untuk ditinggalin banyak orang, jadi risiko terpapar virus itu jelas sangat ada. Kedua ya itu, gue merasa respon dari pemerintah, bahkan tingkat RT, RW, puskesmas sampai Dinkes menurut gue agak lama ya," tutur Bimo saat berbincang dengan detikcom baru-baru ini.

Karena tak kunjung dapat kejelasan mengenai tes swab dari penelusuran kontak, Bimo memutuskan untuk mencari informasi untuk swab mandiri bersama ibu dan adiknya. Baru setelah mendaftar untuk swab mandiri, pihak puskesmas mengatakan akan ada swab untuk kontak dekat di minggu depan.

"Menurut gue itu lama, sementara bude gue yang positif sampai hari ini masih isolasi di rumah, padahal dia punya penyakit penyerta. Akhirnya gue memutuskan untuk keluar dulu mengurangi paparan, biar nggak muter muter aja virusnya di rumah itu," jelas Bimo.

Bimo menjalani swab mandiri di salah satu rumah sakit swasta di daerah Jakarta Pusat dengan biaya Rp 1,5 juta. Hasil tes dia dapatkan dalam rentang waktu 2 hari. Beruntung, hasil pemeriksaan menunjukkan ia, ibu, dan adiknya negatif COVID-19.

Hal yang sama juga dialami Anton (bukan nama sebenarnya), yang akhirnya melakukan swab mandiri setelah rekan kantornya positif COVID-19. Anton memutuskan melakukan swab setelah tahu kantornya tak akan menyediakan fasilitas dan tak melakukan kontak tracing.

"Kan gue khawatir ya, takutnya positif tanpa gejala terus nularin orang lain. Terus dari kantor juga nggak ada tindakan apa-apa jadi ya sudah inisiatif sendiri," ujar Anton.

Selang beberapa jam setelah mendapatkan kabar rekan kantornya positif, Anton menghubungi layanan swab test mandiri di bilangan Jakarta Selatan. Biaya tesnya bervariasi, tergantung pada hasil keluarnya tes. Makin cepat hasilnya keluar, makin mahal biayanya.

"Gue ngambil yang sehari kerja, biar cepat. Harganya Rp 1,2 juta. Kalau yang dua hari kerja, Rp 1,1 juta," ungkap Anton.



Simak Video "Ilmuwan Jerman Pamerkan Alat Uji Corona Baru yang Lebih Cepat"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)