Selasa, 06 Okt 2020 14:00 WIB

Rapid Test Non Reaktif, Inisiatif Swab Modal Sendiri dan Ternyata COVID-19

Elsa Himawan - detikHealth
viral tiktok swab mandiri Viral tiktok swab mandiri. (Foto: Tangkapan Layar TikTok, sudah izin yang bersangkutan)
Jakarta -

Viral di media sosial wanita asal Tangerang yang dinyatakan non reaktif rapid test. Namun, dirinya tak lantas percaya bebas dari Corona karena mengeluhkan sejumlah gejala COVID-19.

Dihar yang menceritakan kisahnya dalam unggahan video lewat akun TikTok pribadi @diharminodella, akhirnya inisiatif swab mandiri. Benar saja, hasil tes menunjukkan dirinya positif COVID-19.

"Kalian tau nggak, untuk duduk di sini itu seperti ngambang. Kaya percaya ga percaya gue ada di posisi ini. Yang biasa liat di berita, sekarang ada di depan mata," ucap Dihar dalam video TikTok tersebut.

"semangat ka," ujar @ffucekgril pada kolom komentar TikTok milik Dihar.

"keep strong kak," komentar @Revanza_123.

Dihar mengaku mengeluarkan uang 1,7 juta rupiah untuk swab mandiri. Hasil tes keluar dalam 1 hari.

Dihar menceritakan bahwa sebelumnya, sang adik memang dinyatakan positif COVID-19. Padahal hasil rapid testnya menunjukan non reaktif. Beberapa hari kemudian, Dihar mengalami kehilangan indera penciuman dan perasa.

Hal ini membuat ia segera melakukan rapid test. Sama dengan sang adik, hasil rapid Dihar juga menunjukkan non reaktif.

"Bener-bener, rapid gak efektif sih.. di sini (tempat karantina) orang-orang yang positif Corona juga sama kayak aku. Mereka sebelumnya rapid, tapi hasilnya non-reaktif," ujar Dihar saat dihubungi detikcom, Senin (05/10/2020).

Akhirnya, pada tanggal 29 September, Dihar memutuskan untuk melakukan swab mandiri karena indera penciumannya semakin hilang. Ia mengaku, tidak bisa mencium aroma minyak kayu putih sama sekali.

Ia juga sangat cemas, jika tidak melakukan swab dan ternyata ia memang benar positif COVID-19, virus itu pasti akan menular ke bayinya. Pada tanggal 30 September, hasil swab menunjukkan dirinya benar positif COVID-19.

"Pas hasilnya keluar, aku gak langsung pulang ke rumah karena ada bayiku. Jadinya, aku tempatin rumah orang tuaku yang uda lama kosong. Aku kasih tahu RT, RW, dan mereka yang laporin ke puskesmas," katanya.

Ternyata, rumah sakit udah pada penuh sama pasien COVID-19. Jadinya, aku dikarantina di hotel Jasmine sama orang-orang yang gejalanya serupa denganku atau mereka yang tanpa gejala," ujar Dihar.

Dihar juga menceritakan bahwa selama hari keempat karantina, tubuhnya sempat menggigil. Lalu, ia melaporkan hal itu pada dokter.

Untungnya, sang dokter menjelaskan bahwa gejala tersebut bukanlah hal yang serius. Sebab, tubuh sedang berusaha melawan virus yang ingin masuk lebih dalam lagi ke dalam tubuh.

Dokter menyarankan Dihar agar tenang dan berpikir rileks supaya imunnya menjadi kuat ketika melawan virus. Dihar mengaku, para tenaga kesehatan juga tak henti-hentinya menghibur dan melayani pasien COVID-19.

Hal ini membuat kondisi tubuh Dihar semakin membaik. Hingga saat ini, indra penciuman Dihar sedikit demi sedikit, mulai berfungsi kembali.

"Aku cuma saranin, betul-betul taati aturan pemerintah. Aku dan suami udah menjaga banget protokol kesehatan. Suamiku tiap pulang kerja, langsung semprot disinfektan, mandi, dan ganti baju," jelasnya.

"Eh, masih aja lengah karena adikku nginep di rumahku dan nggak pernah lakukan itu tiap pulang kerja," pungkasnya.



Simak Video "Yang Harus Dilakukan Jika Tak Bisa Cium Bau Seperti Gejala Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)