Senin, 12 Okt 2020 19:00 WIB

Temui Sultan, Rektor UGM Bahas Pengembangan Alat Deteksi COVID-19 Genose

Pradito Rida Pertana - detikHealth
UGM mengembangkan alat tes COVID-19, bisa mendeteksi virus Corona dalam waktu 80 detik. Kini sedang uji klinis dan menunggu izin edar Kemenkes. Alat deteksi COVID-19 buatan UGM tengah uji klinis dan menunggu izin edar dari Kemenkes RI. (Foto: Pradito Rida Pertana/detikcom)
Jakarta -

Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan pertemuan dengan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X terkait perkembangan alat pendeteksi COVID-19 bernama GeNose. Peneliti GeNose menyebut alatnya mulai dapat diproduksi akhir tahun ini.

"Kami bersilaturahmi dengan Sri Sultan (HB X) terkait perkembangan inovasi GeNose, alat pendeteksi positif negatif dari pasien atau untuk melihat seseorang mengidap virus Corona, COVID-19 apa tidak," kata Rektor UGM, Prof. Panut Mulyono saat ditemui wartawan di Kompleks Kantor Gubernur DIY, Kecamatan Danurejan, Kota Yogyakarta, Senin (12/10/2020).

Selain itu, pihaknya meminta dukungan Ngarso Dalem agar alat tersebut bisa secepatnya beredar di masyarakat. Terlebih saat ini GeNose sudah masuk dalam tahap uji klinis dan uji diagnosis.

"Yang itu sekarang dalam tahap uji klinis dan uji diagnosis dan menunggu izin edar dari Kemenkes. Tadi kita menyampaikan progres itu ke Ngarso Dalem untuk memohon doa restu dan dukungan agar alat ini bisa cepat beredar di masyarakat," ucapnya.

Sementara itu, salah satu peneliti GeNose, dr. Dian Kesumapramudya Nurputra menambahkan, saat ini pihaknya sedang dalam persiapan uji diagnosis di sembilan rumah sakit. Bahkan bimbingan teknis untuk uji diagnosis pun sudah berjalan.

Nantinya, jika semuanya berjalan lancar, tim peneliti berharap pada pertengahan November 2020 atau paling tidak di akhir November 2020, proses produksi massal GeNose bisa dimulai.

"Kalau surat kelayakan uji fungsi dari alat ini sudah keluar dan komite etik sudah oke, pertengahan November sudah bisa mulai produksi massal," katanya.

"Tapi itu juga masih menunggu, karena setelah uji diagnosis, kita juga harus presentasi ke Kemenkes RI dulu, apa hasil yang dikeluarkan alat betul-betul akurat, baru Kemenkes RI mengeluarkan izin edar," imbuh Dian.

Terkait status kegunaan alat ini, Dian menyebut untuk saat ini terlalu dini jika GeNose disebut alat diagnosis COVID-19. Karena untuk bisa mencapai standar diagnosis, dari ilmu kedokteran mensyaratkan sebuah alat harus punya akurasi medis, meliputi sensitivitas, spesifisitas, dan Positive Predictive Value yang nilainya harus di atas standar.

"Karena belum ada hasil uji diagnosisnya, kita baru bisa mengatakan posisi alat ini sekarang masih bersifat alat screening mendampingi rapid test dan PCR," ucap Dian.

Sebelumnya peneliti GeNose, Dian Kesumapramudya Nurputra, memaparkan GeNose bekerja mendeteksi Volatile Organic Compound (VOC) yang terbentuk karena adanya infeksi COVID-19 yang keluar bersama napas melalui embusan napas ke dalam kantong khusus. Selanjutnya diidentifikasi melalui sensor-sensor yang kemudian datanya akan diolah dengan bantuan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence).

GeNose telah melalui uji profiling dengan menggunakan 600 sampel data valid di Rumah Sakit Bhayangkara dan Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid Bambanglipuro di Yogyakarta hasilnya menunjukkan tingkat akurasi tinggi, yaitu 97 persen. Setelah melalui uji klinis tahap pertama, saat ini GeNose tengah memasuki uji klinis tahap kedua.



Simak Video "Seputar Alat Deteksi Corona UGM GeNose yang Sudah Kantongi Izin Edar"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)