Kamis, 15 Okt 2020 08:46 WIB

Vaksinasi COVID-19 Sebentar Lagi, Mitos Soal Vaksin Ini Tak Perlu Dipercaya

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Vaksin virus Corona dari Sinovac dikabarkan siap edar ke seluruh dunia awal 2021. Seperti apa proses pembuatan vaksin yang kini sedang jalani uji klinis itu? Ilustrasi pembuatan vaksin COVID-19. (Foto: Getty Images/Kevin Frayer)
Jakarta -

Pemerintah Indonesia berencana akan memulai vaksinasi COVID-19 pada Desember 2020. Setidaknya ada tiga kandidat vaksin COVID-19 yang bakal masuk ke RI pada November yakni buatan Sinovac, Sinopharm dan Cansino.

Hal ini juga disampaikan oleh Staf Ahli Menteri Kesehatan Alexander Kaliaga Ginting yang menyebut penyuntikan vaksin COVID-19 rencananya dimulai Desember 2020. Vaksin COVID-19 yang tiba di Indonesia disebut potensial dan bisa disuntikkan sambil menunggu hasil uji klinis selesai.

Namun hingga saat ini masih banyak sekali mitos tentang vaksinasi yang membuat beberapa pihak ragu dan enggan divaksin. Dokter spesialis anak dari Yayasan Orangtua Peduli Windhi Kresnawati menyebutkan bahwa beredarnya mitos memang menjadi hambatan program vaksinasi sejak dulu.

"Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengamini bahwa satu dari sepuluh ancaman kesehatan global adalah keraguan orang atas vaksin," katanya dikutip dari laman resmi Satgas Penanganan COVID-19, Kamis (15/10/2020).

Berikut mitos tentang vaksin yang beredar di masyarakat yang tak perlu dipercayai.

1. Mitos: Anak yang diimunisasi tetap bisa sakit

Windhi menjelaskan meski anak mengalami sakit, tingkat keparahan yang dialami pasien imunisasi sangat ringan. Anak-anak yang diimunisasi, bila sakit, akan terhindar dari kecacatan dan kematian.

"Dan jangan lupa, kalau Anda tidak diimunisasi dan Anda tidak sakit, berterimakasihlah kepada orang yang diimunisasi. Karena itulah herd immunity. Ketika kita berada di tengah orang-orang yang sehat, kita tidak terjangkit penyakit," ujar Windhi.

2. Mitos: Vaksin memiliki zat berbahaya

Vaksin yang sudah diproduksi massal harus memenuhi syarat aman, efektif, stabil, dan efisien dari segi biaya. Artinya, vaksin yang tersedia sudah terbukti aman dan tidak memiliki kandungan zat berbahaya.

"Setelah dinyatakan aman, dipakai oleh masyarakat luas di bawah monitoring. Kalau negara kita di bawah BPOM. Karena satu saja ada temuan efek samping yang tidak diinginkan itu bisa ditarik dan biasanya itu ketahuan di fase awal," ujar Windhi.

3. Mitos: Vaksin sebabkan autisme

Mitos ini juga paling banyak dipercayai masyarakat. Windhi menegaskan tidak ada kaitan vaksinasi terhadap autisme pada anak. Hal ini disimpulkan pada penelitian lebih dari 10 tahun.

Thimerosal merupakan salah satu kandungan vaksin dituduh memicu autisme pada anak. Kandungan ini berfungsi sebagai pengawet vaksin.

Amerika Serikat pernah menghapuskan kandungan thimerosal pada tahun 1999 karena takut bahwa kandungannya bisa memicu autisme. Tapi faktanya, setelah thimerosal dihapuskan, angka autisme di Amerika Serikat tidak turun.

"Jadi jangan termakan hoaks dengan thimerosal penyebab autisme. Banyak sekali penelitiannya dan mudah sekali mencarinya di internet" kata Windhi.

4. Mitos: Vaksin mengandung sel janin aborsi

Virus memang perlu inang berupa sel hidup untuk bisa bertahan dan berkembang biak. Misalnya, virus campak, rubella, polio, bahkan SARS Cov-2 memerlukan inang berupa sel hidup.

Dalam pembuatan vaksin, virus memang akan menginfeksi sel hidup itu dan diproduksi berulang-ulang selama bertahun-tahun dengan meninggalkan sel awal. Sedangkan yang diambil sebagai komponen vaksin adalah bagian dari virus atau virusnya tersendiri.

"Jadi, kalau ada yang bilang ada sel janin yang digunakan, itu terjadi pada tahun 1960-an, di mana digunakan secara legal untuk membuat vaksin dan itu sekali saja proses yang terjadi. Lantas apakah dalam vaksin ada sel janin? Jawabannya, hanya ada hasil produknya, yakni berupa virusnya saja," kata Windhi.

5. Mitos: Penyakit yang sudah ada vaksinnya, tak perlu vaksinasi lagi

Banyak riset menunjukkan bahwa penurunan angka vaksinasi memicu kenaikan penyakit spesifik yang dilawan vaksin tersebut. Hal ini sempat terjadi di Indonesia pada medio akhir 2017 lalu. Awalnya wabah difteri terjadi di Jawa dan merambah ke Sumatra. Pemerintah pun memutuskan untuk melakukan imunisasi nasional dan menggratiskan imunisasi difteri hingga usia 19 tahun.

"Di AS juga terjadi, tahun 2018 angka imunisasi turun dan muncul lagi. Polio sempat muncul kembali di Papua, padahal kita pernah dapat bendera bebas polio dari WHO. Campak rubella masih mengancam karena banyak hoaks tadi. Jadi hati-hati, kalau angka mulai turun dan kita hadapi wabah ini sangat menderita," jelas Windhi.

6. Isu halal-haram vaksin

Menurut Windhi, isu halal-haram vaksin hanya terjadi di Indonesia. Bahkan di Timur Tengah dengan negara berpenduduk mayoritas Muslim, pro kontra terhadap kehalalan vaksin tidak terjadi. Semua masyarakat dunia pun sepakat pentingnya vaksin.

"Peserta haji saja wajib divaksin. Makanya saya bilang lucu, kenapa di kita (Indonesia) saja. (Soal isu halal-haram) ini pemicunya ada Trypsin yang dipinjam dari enzim babi untuk hasilkan panen yang baik. Supaya dapat komponen vaksin," kata Windhi.

Ia mengatakan masyarakat perlu memahami bahwa tidak ada bagian babi yang masuk dalam vaksin.

Enzim akan dimurnikan kembali sehingga komponen perantara tidak ikut masuk pada vaksin. Ketika dalam proses pembuatannya bersinggungan dengan enzim dari babi, pada produksi akhirnya hanya virus yang masuk dalam vaksin.

"Seandainya tetap tidak mau, karena bersinggungan, kita merujuk negara lain yang maju yang mayoritas Muslim dan MUI yang sudah sampaikan halal. Untuk kebaikan dan dalam keadaan mencegah penyakit yang lebih berat dan berbahaya, vaksin halal," katanya.



Simak Video "AstraZeneca, Calon Vaksin dari Inggris yang Akan Masuk Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)