Selasa, 20 Okt 2020 17:15 WIB

Satgas COVID-19 Sebut Banyak Daerah 'Nyaman' di Zona Risiko Sedang

Firdaus Anwar - detikHealth
Pemerintah Kota Bekasi menggelar tes massal corona terhadap penumpang KRL di Stasiun Bekasi. Tes kali ini menggunakan alat yang lebih akurat berupa polymerase chain reaction (PCR). Agung Pambudhy/Detikcom. 

1. Penumpang Commuter line mengikuti test massal COVID 19 dengan metode polymerase chain reaction (PCR) di Stasiun Bekasi, Jawa Barat, Selasa (5/5/2020).
2. Sebanyak 300 penumpang kereta dipilih secara random mengikuti tes ini. 
3. Metode tes PCR adalah mengetes spesimen yang diambil dari dahak di dalam tenggorokan dan hidung lalu diswab. 
4. Tes ini dianggap paling akurat dibandingkan rapid test yang hanya untuk mendeteksi reaksi imun dalam tubuh.
5. Data terkini kasus positif Covid-19 di Kota Bekasi telah mencapai 249 orang. Pasien sembuh corona 126, dalam perawatan 95, sedangkan meninggal 28 orang.
6. Test ini dibantu petugas dari RSUD Kota Bekasi dan Dinkes Kota Bekasi.
7. Sebelum masuk ke stasiun, penumpang lebih dulu menjalai tes PCR secara acak. Setelah itu, sampel lemdir dari hidung akan diuji di Labiratorium Kesehatan Kota Bekasi.
8. Hasil pemeriksaan ini diharapkan memberi gambaran kondisi penumpang ‎KRL apakah ada yang terpapar COVID-19 atau tidak.
9. Sebelumnya di KRL ada tiga orang yang dinyatakan positif virus COVID-19 berdasarkan hasil test swab PCR yang dilakukan pada 325 calon‎ penumpang dan petugas KAI di Stasiun Bogor. 
10. Sejumlah kepala daerah meminta pemerintah pusat untuk menstop operasional KRL guna menghambat penyebaran virus COVID-19
11. Hingga 4 Mei 2020 di Indonesia terdapat 11.587 kasus COVID-19 dengan kasus kematian 864 meninggal dan 1.954 sembuh.
12. Sampai kemarin pemerintah telah menguji 112.965 spesimen dari 83.012 orang di 46 laboratorium. Virus Corona COVID-19 (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Dalam update mingguan perkembangan wabah virus Corona COVID-19, juru bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito menjelaskan kondisinya di Indonesia secara umum semakin baik. Namun demikian Wiku mengingatkan daerah tidak terlena karena banyak yang masih stagnan di zona risiko sedang.

Wiku menjelaskan pembobotan zona risiko saat ini lebih diutamakan pada indikator kasus aktif, kesembuhan, dan kematian. Tujuannya agar daerah bisa lebih fokus memperbaiki tiga indikator tersebut.

"Selama lima bulan terakhir memang tampak kemajuan dalam penanganan COVID-19 di kabupaten kota di Indonesia. Akan tetapi juga nampak daerah-daerah yang merasa sudah berada di zona nyaman," kata Wiku dalam konferensi pers yang disiarkan BNPB, Selasa (20/10/2020).

"Karena dalam lima minggu terakhir sebagian besar kabupaten kota di Indonesia masih stagnan berada di zona risiko sedang, zona oranye. Ini tampak dari semakin sedikitnya kabupaten kota di zona kuning dan zona hijau karena berpindah ke zona oranye," lanjutnya.

Hingga tanggal 18 Oktober 2020, Satgas COVID-19 melaporkan ada 32 kabupaten kota di zona merah, 344 di zona oranye, 113 di zona kuning, dan hanya 25 kabupaten kota di zona hijau.

"Kami mengharapkan bahwa pemerintah daerah keluar dari zona nyaman ini dan bekerja lebih keras lagi agar segera keluar dari zona risiko sedang maupun oranye dan berpindah ke zona kuning maupun hijau," pungkas Wiku.



Simak Video "Dear Warga Indonesia, Yuk Lakukan 3W Agar Terhindar Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/up)