Sabtu, 24 Okt 2020 19:22 WIB

Hanya 44% Perempuan Sadar Periksa Dini Payudara untuk Hindari Kanker

Inkana Putri - detikHealth
Soy Products. Soy Bean Food and Drink Products Photograph with Several Elements including loose bean,tofu, and soy milk. Full block of tofu.  Half block of tofu sitting on plate of loose soy beans. Green beans in black square bowl. Glass filled with soy milk. Foto: iStock
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat menjelaskan masyarakat perlu meningkatkan kepeduliannya terkait penyakit kanker. Pasalnya, pemahaman tentang penyakit kanker merupakan faktor penting dalam proses pengobatan.

"Informasi mengenai penyakit kanker saat ini masih sangat minim. Padahal dukungan orang-orang di sekitar penderita kanker sangat penting dalam proses pengobatannya," ujar Lestarie dalam keterangannya, Sabtu (24/10/2020).

Hal tersebut ia sampaikan dalam acara Cyber Teaching bertema 'Determinan Sosial Stres dan Kesehatan Masyarakat' (Kisah Koping Stres Penyintas Kanker) yang digelar oleh Departemen Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga.

Menurutnya, minimnya informasi tentang kanker menyebabkan masyarakat sering sekali terlambat dalam mengantisipasi gejala-gejala kanker yang muncul. Ia berharap dengan adanya langkah sosialisasi berskala nasional, pemahaman masyarakat tentang penyakit kanker dapat ditingkatkan.

Wanita yang akrab disapa Rerie ini menambahkan kisah sukses sosialisasi program Keluarga Berencana di masa lalu bisa menjadi acuan dalam mensosialisasikan berbagai hal tentang penyakit kanker.

Rerie mengatakan sosialisasi tentang kanker perlu dilakukan. Pasalnya, berdasarkan data Media Research Center 2020, saat ini hanya 44% perempuan yang memeriksakan sendiri sejak dini payudaranya untuk menghindari terkena kanker.

Bahkan, minimnya pemahaman masyarakat sering sekali menganggap penderita kanker terkena kutukan sehingga harus dijauhi.

"Karena tidak paham, keluarga penderita kanker juga kerap tidak memberikan dukungan yang tepat," ujarnya.

Pada kondisi seperti ini, ia menjelaskan kalangan perguruan tinggi bisa ikut serta dalam membuat konten dan strategi sosialisasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat soal penyakit kanker.

Selain itu, keikutsertaan milenial dan volunteer yang beranggotakan para penyintas kanker dalam pendampingan juga sangat penting.

"Penderita kanker itu tidak hanya menderita karena kanker, tetapi juga mengalami tekanan psikologis dan sosial sebagai dampak dari proses pengobatan," ungkapnya.

Wanita yang merupakan penyintas kanker payudara Her-2 positif ini juga menegaskan para penderita kanker perlu mendapatkan pendampingan untuk menekan dampak sosial dan psikologis yang dialaminya.

Oleh karena itu ia meminta para kalangan akademisi untuk ikut aktif memberi saran kepada para pemangku kepentingan sehingga kebijakan yang dihasilkan Pemerintah mampu mendorong peningkatan pemahaman masyarakat soal kanker.



Simak Video "Payudara Prostetik untuk Pengidap Kanker Payudara"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/mpr)