Minggu, 25 Okt 2020 11:04 WIB

Bagaimana Vaksin Dapat Mencegah Suatu Penyakit? Ini Penjelasan Lengkapnya

Pasti Liberti Mappapa - detikHealth
Thailand Akan Produksi Vaksin AstraZeneca untuk Asia Tenggara WHO melaporkan ada ratusan kandidat vaksin COVID-19. Lalu bagaimana cara kerja vaksin hingga dapat mencegah penyakit? (Foto: DW)
Jakarta -

Lembaga penelitian, perguruan tinggi, dan perusahaan farmasi dari seluruh dunia berupaya mengembangkan vaksin dalam menghadapi pandemi yang disebabkan virus Corona. Lalu bagaimana sebenarnya cara kerja vaksin hingga dapat mencegah suatu penyakit?

Konsep pemberian vaksin pertama kali diperkenalkan oleh seorang dokter asal Inggris bernama Edward Jenner pada 1796. Masa-masa itu, penyakit cacar mewabah di Inggris bahkan menyebabkan wafatnya putra mahkota, Pangeran William dalam usia 11 tahun.

Seperti yang dikutip dari situs web Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Jenner berhasil melakukan inokulasi bahan yang didapatkan dari nanah cowpox atau cacar sapi pada pasien untuk mencegah penyakit cacar.

Atas jasanya, Jenner mendapat julukan "Bapak Imunologi". Belakangan ilmuwan-ilmuwan lain berhasil menemukan vaksin pertusis atau batuk rejan, difteri, tetanus, polio, dan campak yang membawa dampak positif bagi sistem kesehatan di dunia.

Lantas bagaimana cara kerja vaksin hingga dapat mencegah penyakit cacar dan lainnya? Seperti dijelaskan WHO dalam modul Pelatihan Dasar Keamanan Vaksin , vaksin akan merangsang sistem kekebalan dalam tubuh orang tersebut untuk melawan antigen.

Antigen merupakan komponen yang dihasilkan dari struktur organisme penyebab penyakit. Sehingga apabila antigen tersebut menginfeksi kembali, reaksi imunitas yang lebih kuat akan timbul.

"Reaksi imunitas atau respons imun adalah pertahanan tubuh melawan setiap benda asing atau organisme, misalnya bakteri, virus, organ, atau jaringan transplantasi," tulis WHO.

Vaksin mengandung bakteri, virus, atau komponennya yang telah dikendalikan atau dilemahkan dengan bantuan teknologi tertentu. Dengan kata lain, vaksin mengandung antigen serupa dengan antigen penyebab penyakit. Namun antigen dalam vaksin sudah dilemahkan.

Berikut jenis-jenis vaksin seperti yang dikutip dari Pelatihan Dasar Keamanan Vaksin WHO:

1. Vaksin hidup yang dilemahkan atau LAV (Live Attenuated Vaccine)

Vaksin hidup yang dilemahkan dibuat dari mikroorganisme hidup yang telah dilemahkan di laboratorium. Vaksin ini akan bereplikasi dalam tubuh seseorang yang telah divaksinasi dan menimbulkan respons imun, pada umumnya menimbulkan sakit ringan atau tidak sakit.

Vaksin yang termasuk jenis ini yakni BCG untuk tuberkulosis dari bakteri. Kemudian dari virus diantaranya rotavirus, campak, polio oral, dan demam kuning.

2. Vaksin yang sudah dimatikan (inaktivasi/killed antigen)

Vaksin ini dibuat dari mikroorganisme baik itu virus, bakteri, dan lain-lain yang telah dimatikan. Proses mematikan dilakukan dengan menggunakan bahan kimia tertentu atau secara fisik.

Mikroorganisme yang sudah mati ini tidak dapat menyebabkan penyakit. Karena itu vaksin jenis inaktivasi dianggap lebih aman dan stabil ketimbang vaksin hidup yang dilemahkan.

Hanya saja vaksin ini tidak selalu bisa merangsang respons imun pada pemberian dosis pertama. Sehingga bisa saja diperlukan beberapa dosis tambahan.


3. Vaksin yang berisi subunit dari antigen (Antigen yang Dimurnikan)

Vaksin ini tidak mengandung komponen patogen hidup seperti layaknya vaksin inaktivasi. Perbedaannya vaksin subunit hanya mengandung sebagian dari komponen patogen.

Untuk mendapatkan vaksin ini harus diteliti betul bagian mana dari patogen yang dapat berfungsi sebagai antigen untuk merangsang respons imun.

Beberapa vaksin subunit yang sering digunakan antara lain vaksin pertusis aseluler, hepatitis B, Vaksin pneumokokus konjugasi (PCV-7, PCV-10, PCV-13), dan vaksin Haemophilus influenzae type b conjugate (Hib).

4. Vaksin yang berisi toksoid (Toksin yang dimatikan)

Vaksin toksoid dibuat dari toksin atau racun dari bakteri tertentu yang sudah tidak berbahaya lagi. Akan tetapi, masih dapat merangsang respons imun melawan toksin tersebut.

Toksin berbasis protein tidak berbahaya dan digunakan sebagai antigen yang dapat merangsang kekebalan. Jenisnya antara lain vaksin tetanus toksoid dan difteri toksoid.

Komponen-komponen yang ada dalam vaksin:

1. Antigen

2. Zat penstabil

Digunakan untuk menjamin stabilitas vaksin saat disimpan. Faktor-faktor yang memengaruhi stabilitas vaksin antara lain suhu dan keasaman. Vaksin yang instabil akan kehilangan efektifitasnya.

3. Ajuvan

Ajuvan ditambahkan dalam vaksin untuk merangsang pembentukan antibodi terhadap antigen dalam vaksin secara lebih efektif. Contohnya garam aluminium.

4. Antibiotik

Dipakai dalam jumlah sedikit saat proses pembuatan vaksin agar kontaminasi bakteri pada kultur sel dimana virus sedang dikembangbiakan dapat dicegah.

5. Bahan Pengawet

Bahan pengawet ditambahkan pada vaksin dengan kemasan multi dosis untuk mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur.

Menurut data WHO per 19 Oktober 2020, sebanyak 44 kandidat vaksin COVID-19 telah masuk dalam tahap uji klinis. Namun baru 10 kandidat yang masuk pada fase uji klinis tahap 3. Sementara, 154 kandidat vaksin lainnya masih dalam tahap evaluasi praklinis.

Tiap vaksin ini ada yang dikembangkan dengan platform berbeda. Vaksin Sinovac dari China misalnya dengan inaktivasi, sementara Merah Putih LBME Eijkman menggunakan subunit.

Meski demikian cara kerja vaksin-vaksin ini hingga dapat mencegah suatu penyakit tentunya serupa yakni merangsang sistem imunitas untuk membuat zat kekebalan tubuh atau antibodi.



Simak Video "Relawan Ceritakan Efek Samping yang Dialami dari Vaksin Pfizer"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/nwy)