Sabtu, 31 Okt 2020 09:05 WIB

Selandia Baru Tolak Legalisasi Ganja, Setujui Eutanasia

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
ganja Ilustrasi tanaman ganja. (Foto: thinkstock)
Jakarta -

Mayoritas warga Selandia Baru setuju untuk melegalkan eutanasia namun menolak legalisasi ganja untuk rekreasi. Demikian hasil sementara referendum Selandia Baru pada Jumat (30/10).

Dikutip dari Reuters, dalam referendum tentang apakah akan mengizinkan penggunaan dan penjualan ganja, 53 persen mengatakan tidak dan 46 persen memilih mendukung, menurut hasil awal yang dirilis oleh Electoral Commission Selandia Baru.

Sementara itu, di referendum terpisah, warga Selandia Baru setuju untuk melegalkan eutanasia, dengan 65 persen memilih ya.

Eutanasia adalah tindakan mengakhiri dengan sengaja kehidupan makhluk yang sakit berat atau luka parah dengan kematian yang tenang dan mudah atas dasar perikemanusiaan. Eutanasia dalam prakteknya juga sering disebut suntik mati.

Warga Selandia Baru mengambil pandangan yang lebih liberal tentang eutanasia. Jika legalisasi disahkan makka orang-orang dengan penyakit mematikan dan hanya memiliki harapan hidup enam bulan 'diizinkan' mengakhiri hidupnya.

Beberapa negara yang telah melegalkan eutanasia di antaranya Belanda, Lusemburg, Kanada, Belgia, dan Kolombia.

Berbeda dengan eutanasia yang mendapat dukungan warga, legalisasi ganja nampaknya masih sulit dilakukan. Sementara penanaman dan penggunaan ganja tersebar luas di Selandia Baru, peringatan bahwa legalisasi akan membuat obat tersebut lebih mudah diakses oleh anak-anak menuai perdebatan di antara warga Selandia Baru.

Usulannya adalah mengizinkan orang dewasa berusia 20 tahun ke atas untuk membeli ganja dari gerai berlisensi dan menanam tanaman di rumah. Itu akan membuat produk ganja dapat dibeli dan dikonsumsi, meskipun iklan dan merokok ganja di depan umum akan dilarang.

Ganja untuk pengobatan, yang membutuhkan resep dokter, telah dilegalkan di Selandia Baru.

Perdana Menteri Jacinda Ardern, yang menolak untuk mengungkapkan preferensinya sebelum referendum, memilih untuk melegalkan obat tersebut, katanya kepada media lokal.



Simak Video "Soal Legalnya Ganja di Negara Lain, Peneliti: Jangan Samakan Indonesia!"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)