Selasa, 10 Nov 2020 20:00 WIB

Positif Corona, Pengantin Baru Asal Sragen dan Orang Tuanya Meninggal

Andika Tarmy - detikHealth
Hopeful and Sad emotional concept, Couple women hold hands lover that sick lying in Hospital bed for sleeping with love emotional, Encouragement comforting Recovering from family healthy Moment L memiliki riwayat penyakit asma. (Foto ilustrasi: iStock)
Sragen -

L (28) pengantin baru asal Desa Wonorejo, Kecamatan Kalijambe, Sragen, meninggal dalam kondisi positif terpapar virus Corona atau COVID-19. Tragisnya, hanya berselang beberapa hari, kedua orang tua L menyusul meninggal juga akibat terpapar COVID-19.

"Yang bersangkutan positif COVID-19. Meninggal tanggal 5 November di RSUD Moewardi. Ibunya meninggal tanggal 6 November dan ayahnya meninggal Senin kemarin (9 November). Orang tuanya juga positif," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen Hargiyanto, dihubungi detikcom, Selasa (10/11/2020).

Hargiyanto mengatakan, ibu L menjalani perawatan di RSUD Ngipang Solo. Sementara ayahnya dirawat di RSUD dr Soeratno Gemolong. Menurut Hargiyanto, kuat dugaan kedua orang tua tersebut terpapar Corona dari L.

"Dua-duanya kemungkinan terpapar dari anaknya. Sementara anaknya kemungkinan terpapar dari Jakarta karena bekerjanya di Jakarta," terangnya.

Hargiyanto mengaku sudah melakukan tracing terkait temuan kasus ini. Tracing dilakukan kepada 113 warga Desa Wonorejo.

"Kita tracing. Hari ini 62 warga di-swab, kemarin 52 warga. Seluruhnya kontak erat dengan ketiga pasien positif," imbuhnya.

Seluruh warga yang sudah dilakukan tes swab, lanjutnya, diwajibkan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah. Hasil swab diperkirakan akan keluar besok (11/11).

"Nanti kita lihat hasilnya. Sementara ini kita edukasi untuk isolasi mandiri di rumah masing-masing. Nanti jika hasilnya ada yang positif baru kita lakukan intervensi," papar Hargi.

Dihubungi terpisah, Kepala Desa Wonorejo, Edi Subagyo mengatakan L selama ini bekerja sebagai tenaga kesehatan di Puskesmas di daerah Cakung, Jakarta. L pulang ke rumahnya tanggal 22 Oktober, dengan maksud akan melangsungkan pernikahan.

"Tanggal 24 Oktober dilangsungkan ijab dan resepsi kecil-kecilan. Hanya mengundang tetangga kampung. Memang terkait hajatan, kalau tidak besar dan memenuhi protokol kesehatan kami memberikan izin," ujarnya.

Edi mengatakan, tanggal 26 Oktober, keluarga L hendak melangsungkan prosesi ngunduh manten di rumah suaminya di Wonogiri. Namun di tengah perjalanan, L kolaps.

"Sebelum berangkat sudah mengeluh sakit dan sempat dibawa ke klinik sekitar satu kilometer dari rumah. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Wonogiri, namun di tengah perjalanan sudah nggak kuat sehingga langsung dilarikan ke RSUD Moewardi," kata Edi.

L dinyatakan meninggal tanggal 5 Oktober, disusul kedua orang tuanya dalam selang waktu beberapa hari saja. Menurut Edi, ketiga pasien tersebut memang memiliki riwayat penyakit.

"L kecilnya punya riwayat asma. Sementara ayah dan ibunya, kedua-duanya sakit gula. Ibunya bahkan sempat opname di rumah sakit sepekan sebelum pelaksanaan resepsi," urainya.

Karena ada ratusan warga yang dinyatakan kontak erat, Edi mengaku sudah mengedukasi warga untuk melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing. Warga sekitar juga memberikan dukungan lewat bantuan bahan pangan kepada warga yang sedang menjalani isolasi.

"Tadi pagi ibu-ibu PKK sudah memberikan sayuran. 17 RT juga sudah urunan untuk membantu," pungkas Edi.



Simak Video "Virus Corona Mengancam Kerusakan Otak"
[Gambas:Video 20detik]
(sip/fds)
dRooftalk
×
Rentetan Bencana di Awal Tahun
Rentetan Bencana di Awal Tahun Selengkapnya