Rabu, 11 Nov 2020 18:47 WIB

Studi: 1 dari 5 Pasien COVID-19 Alami Gangguan Kejiwaan Usai Sembuh

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
ilustrasi pasien Corona sembuh Ilustrasi pasien COVID-19. (Foto: shutterstock)
Jakarta -

Studi baru mengungkap seseorang yang mengidap dan sempat terkena COVID-19 memiliki risiko didiagnosis dengan gangguan kejiwaan. Para peneliti melihat catatan medis pada 69 juta orang di AS antara 20 Januari hingga 1 Agustus.

Dikutip dari CNN International, data tersebut mencakup 62 ribu orang yang tertular COVID-19. Studi ini merupakan penelitian terbesar yang memahami kaitan antara COVID-19 dan kesehatan mental.

Usai tiga bulan terpapar COVID-19, sekitar 1 dari 5 orang yang selamat atau sekitar 18 persen disebut didiagnosis mengalami masalah kejiwaan.

Para peneliti dari Universitas Oxford membandingkan diagnosis psikiatri pada pengidap COVID-19 dengan pasien yang mengidap influenza, infeksi saluran pernapasan lainnya, infeksi kulit, patah tulang besar, batu empedu dan batu ginjal.

"Studi tersebut melaporkan bahwa pasien memiliki risiko yang agak lebih tinggi untuk didiagnosis dengan penyakit kejiwaan, terutama kecemasan atau depresi, setelah diagnosis COVID-19 daripada setelah peristiwa medis tertentu lainnya," kata David Curtis, pensiunan konsultan psikiater dan profesor kehormatan di Universitas College London dan Queen Mary University of London, dalam sebuah pernyataan.

"Misalnya, mereka menunjukkan bahwa ada 18 persen kemungkinan mendapatkan diagnosis psikiatris setelah COVID-19 dibandingkan dengan 13 persen setelah influenza," ungkap Curtis, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, mengatakan kepada Science Media Center di London.

Apa saja gejalanya?

- Cemas
- Depresi
- Insomnia untuk pertama kalinya.

Studi yang diterbitkan dalam The Lancet Psychiatry menemukan bahwa 20 persen pasien COVID-19 menerima diagnosis kejiwaan dalam waktu 90 hari. Namun, studi tidak melihat alasan atau mekanisme yang dapat menjelaskan hubungan antara tertular COVID-19 dan diagnosis psikiatri.

"Ini dapat dijelaskan oleh beberapa faktor termasuk efek neurologis atau biologis langsung dari virus, obat yang digunakan untuk mengobatinya, kekhawatiran dan kecemasan yang disebabkan oleh tertular penyakit dan kekhawatiran yang lebih luas tentang pandemi," kata penulis studi Paul Harrison, seorang profesor psikiatri di Universitas Oxford dan Rumah Sakit Warneford.



Simak Video "Fluktuasi Pasien Keluar Masuk Wisma Atlet: 350-400 per Hari"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/kna)