Senin, 16 Nov 2020 19:37 WIB

Cerita Dokter di Wisma Atlet, Mengabdi di Tengah Kecemasan Orang Tua

Yudistira Imandiar - detikHealth
Komandan lapangan RSDC Wisma Atlet Letkol Laut Muhamad Arifin (kedua dari kiri), Dokter RSDC Wisma Atlet, dr. Aulia Giffarinnisa (tengah) dan Perawat RSDC Wisma Atlet Lia Gustina, Amd.Kep (kanan) dipandu oleh Kemal Ramdan menjadi pembicara dalam dialog produktif bertema Berjuang dan Berbakti Menyembuhkan Negeri Dari Pandemi Foto: KPC PEN
Jakarta -

Para dokter dan tenaga kesehatan (nakes) di Rumah Sakit Darurat COVID (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran bergelut dengan ribuan pasien COVID-19 sejak beberapa bulan terakhir. Di samping harus berjuang merawat pasien agar bisa sembuh, dokter dan nakes juga harus meyakinkan keluarga yang khawatir akan kondisi mereka.

Dalam forum Dialog Produktif dengan tema 'Berjuang dan Berbakti Menyembuhkan Negeri dari Pandemi' di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) beberapa waktu lalu, Dokter muda, dr. Aulia Giffarinnisa bercerita, dirinya tergerak untuk merawat pasien COVID-19 di Wisma Atlet Kemayoran hingga akhirnya mengajukan diri untuk bertugas di sana.

Namun, ia terlebih dahulu memberikan pengertian pada keluarga yang cemas dengan keselamatannya dalam bertugas. Meski sempat tertahan restu orang tua, akhirnya ia mendapatkan lampu hijau untuk mengabdi di Wisma Atlet.

"Dari April 2020 sudah ingin bergabung, tapi belum ada izin dari orang tua. September baru dapat izin, dan akhirnya bergabung ke Wisma Atlet," kenang Aulia dikutip keterangan tertulis, Senin (16/11/2020).

Cerita senada juga diungkapkan Lia Gustina, seorang perawat asal Lampung yang mengajukan diri menjadi suster di RSDC Wisma Atlet COVID-19. Orang tua Lia sempat keberatan anaknya bertugas di lokasi isolasi dan perawatan pasien COVID-19.

"Awalnya, saya merasa terpanggil saja. Saya ingin tahu bagaimana sebenarnya terjun ke sana, apa benar menakutkan seperti di berita. Keluarga juga melarang, apalagi saya punya dua anak kecil. Awalnya tidak dapat izin, tapi karena tekad saya keras, saya memaksa ingin berangkat, akhirnya keluarga mengizinkan," kenang Lia.

Meski penuh risiko, para tenaga kesehatan dan relawan maksimal untuk memperjuangkan kesembuhan para pasien. Dikatakan dr Aulia, dirinya merasa senang saat pasien dinyatakan negatif dari COVID-19.

"Kalau misalnya sudah 2 bulan, sudah di-swab berkali-kali, dan hasilnya dinyatakan negatif, pasien berterima kasih. Kalau sudah begitu, kita rasanya gimana gitu," ungkap dr Aulia.

(ega/ega)