Selasa, 24 Nov 2020 13:27 WIB

Banyak Pasien COVID-19 di Indonesia Merasa Sehat, Ternyata Sudah Happy Hypoxia

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Total jumlah kematian terkait virus corona di Amerika Serikat mencapai 2.409 orang. 
Data tersebut dirilis Johns Hopkins University pada Minggu (29/3) waktu setempat. Foto ilustrasi. (Foto Ilustrasi: AP/John Minchillo)
Jakarta -

Gejala Corona yang dialami pasien COVID-19 bisa berbeda-beda, dari ringan hingga berat. Di Indonesia sendiri jumlah pasien yang mengalami gejala berat hingga kritis pun tidak sedikit. Salah satu gejala yang belakangan sering disebut adalah happy hypoxia.

Menurut dokter sekaligus penyintas COVID-19 Twindy Rasati, jumlah proporsi pasien COVID-19 di Indonesia yang kritis jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal ini membuat mereka membutuhkan perawatan di ruang ICU dan ventilator agar bisa bertahan hidup.

"Ruang ICU dan alat pernapasan dibutuhkan hanya sesuai indikasi, memang tidak semua pasien jatuh ke kondisi critical state yang hingga ujung-ujungnya membutuhkan ventilator dan perawatan di ICU," kata Twindy dalam diskusi virtual Forum Merdeka Barat 9 di YouTube, Senin (23/11/2020).

"Tapi pasien-pasien yang critical state ini ternyata lumayan banyak kalau di bandingkan dengan prevalensi di negara-negara lain," tambahnya.

Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Twindy menjelaskan, masih banyak orang yang belum mengetahui dan memahami COVID-19, sehingga tak sedikit di antara mereka yang merasa sehat-sehat saja, tetapi sudah terkena happy hypoxia.

"Salah satunya mungkin karena tidak terdeteksi dari awal jadi ada banyak pasien yang merasa 'oh saya sehat-sehat saja' ternyata sudah timbul happy hypoxia terlebih dahulu di rumah," jelasnya.

"Saat dia masuk tujuannya langsung mencari ICU dan itu akan lebih susah dibandingkan pasien yang dari awal. Sudah kita lihat yang sudah kita terapi, yang kita usaha perbaiki kondisinya namun sadly jatuh ke kondisi yang lebih buruk," ujarnya.

Apa itu happy hypoxia?

Happy hypoxia bisa dialami pasien COVID-19 dan gejala ini bisa berisiko fatal, karena umumnya tidak disadari pasien. Menurut ahli paru dari RS Persahabatan, dr Erlang Samoedro, SpP, happy hypoxia adalah kondisi penurunan oksigen dalam darah yang tidak disadari pasien.

dr Erlang menjelaskan, kondisi ini bisa dialami pasien karena berkaitan dengan masalah paru-paru. "Penurunan oksigen di dalam darah tidak diikuti oleh rangsangannya, tidak sampai ke otak, jadi orangnya tidak sadar bahwa dia kadar oksigennya kurang," jelas dr Erlang beberapa waktu lalu.

Pasien yang mengalami happy hypoxia pada awalnya tidak merasa sesak. Namun, pasien dengan kondisi ini suatu saat bisa merasa sesak napas secara tiba-tiba dan berisiko fatal.



Simak Video "Seberapa Penting Oximeter untuk Pasien Isoman COVID-19?"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)