Selasa, 24 Nov 2020 15:00 WIB

Masih Ada yang Menolak Tes Corona, Satgas COVID-19 Sebut 4 Kemungkinannya

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Upaya mengatasi penyebaran virus Corona terus dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia. Sejumlah bantuan pun diberikan guna mempercepat penanganan COVID-19. Satgas sebut 4 kemungkinan masih ada warga yang menolak tes COVID-19. (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Upaya Satgas COVID-19 menemukan kasus positif melalui tes Corona menghadapi penolakan di lapangan. Baru-baru ini, Habib Rizieq Shihab juga tidak bersedia dites oleh petugas, sebagaimana disampaikan FPI.

Tim Pakar Satgas COVID-19 Bidang Perubahan Perilaku, Turro Wongkaren, PhD, menjelaskan ada sejumlah alasan utama seseorang tidak mau dites Corona. Di antaranya adalah karena faktor ekonomi, stigma, dan kurangnya pemahaman terkait COVID-19.

Padahal menurut Turro, tes Corona diperlukan untuk menjaring kasus positif agar bisa dirawat atau menjalani isolasi. Seseorang yang kedapatan positif perlu diisolasi agar tidak menularkan virus ke orang lain.

"Kalau Anda dites, Anda bisa disebut sebagai pahlawan. Kalau orang nggak dites bisa jadi yang OTG itu kemudian menyebarkan penyakitnya ke banyak orang tanpa orang tahu," kata Turro dalam siaran pers BNPB melalui kanal YouTube Selasa (24/11/2020).

Beberapa alasan seseorang menolak tes Corona menurut Turro adalah sebagai berikut:

Baca juga: Studi Ungkap Rasa Mulut Seperti Ini Jadi Tanda Awal Infeksi COVID-19

1. Takut tak bisa bekerja jika positif COVID-19

Turro menjelaskan, salah satu alasan masyarakat enggan untuk dites Corona adalah karena faktor ekonomi. Alasan ini biasanya ditemukan di kalangan masyarakat menengah ke bawah, yang takut tidak bisa bekerja dan mencari nafkah jika dinyatakan positif COVID-19.

"Bisa jadi dia nggak boleh masuk kantor, mungkin ini khususnya untuk mereka sosial-ekonomi di bawah, mereka jadinya nggak bisa dapat uang makan atau mereka nggak bisa kerja lalu keluarganya makan apa?" jelasnya.

2. Meragukan hasil testing

Turro menyebut, masih banyak warga yang merasa bingung dengan banyaknya jenis testing yang digunakan untuk COVID-19. Masing-masing jenis tes punya perbedaan, misalnya antara rapid test dan tes PCR swab.

"Rapid test kan ada macam-macam, ada yang dibilang 'oh ini udah kena lama tapi sudah sembuh', itu yang membuat masyarakat jadi agak ragu-ragu," ujarnya.

"Ditambah lagi memang ini sebenarnya bukan salah siapa-siapa, tetapi ini memang kenyataan hidup bahwa testing itu nggak 100 persen dan selalu ada false negatif atau false positif. Ini yang membuat sayangnya masyarakat (bingung), ini benar nggak sih?" tambahnya.

Banyaknya istilah-istilah dalam tes Corona, seperti positif atau reaktif COVID-19, menurut Turro, juga bisa menjadi alasan masyarakat enggan untuk dites. Bisa-bisa sakitnya bukan karena terinfeksi, tetapi pusing karena bingung mengartikan istilahnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Satgas Jelaskan Prosedur Penjemputan Pasien Positif Corona"
[Gambas:Video 20detik]