Selasa, 24 Nov 2020 15:16 WIB

Pfizer-Bio Farma Bakal Kerja Sama, Siap-siap Beli Freezer Super Dingin?

Ayunda Septiani - detikHealth
The doctor prepares the syringe with the cure for vaccination. Ilustrasi Vaksin Corona. (Foto ilustrasi: iStock)
Jakarta -

Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan salah satu 'oleh-oleh' dari kunjungannya datang ke Amerika Serikat (AS). Salah satu oleh-oleh yang disebutkannya adalah soal kerja sama produksi vaksin Corona COVID-19 dengan Pfizer.

Hal itu terjadi setelah Luhut melakukan diskusi bersama Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence. Ia mengatakan AS akan membantu untuk mengadakan vaksin Corona untuk Indonesia.

"Wapres Pence dan saya berbicara hampir 15 menit. Kami bicara menyangkut masalah vaksin dan Amerika, presidennya mau membantu vaksin," ungkap Luhut dalam webinar CEO Networking 2020, Selasa (24/11/2020).

Luhut mengaku dirinya sudah menindaklanjuti pembicaraannya dengan Pence soal vaksin Corona COVID-19. Ia mengatakan sudah ada kesepakatan antara farmasi Pfizer dan Bio Farma untuk melakukan kerja sama vaksin COVID-19.

Berikut plus-minus vaksin COVID-19 buatan Pfizer:

PLUS

1. Efektivitas 95 persen

Dikutip dari laman Reuters pada Rabu (18/11/2020), Pfizer mengumumkan bahwa hasil akhir uji klinis tahap akhir vaksin COVID-19 buatannya menunjukkan efektivitas 95 persen.

2. Efek samping ringan

Menurut keterangan para relawan yang mendapat suntikan pertama vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech, ada beberapa efek samping yang dirasakan. Di antaranya adalah sakit kepala dan nyeri otot, seperti yang muncul setelah melakukan vaksin flu.

Hal ini pun diungkapkan oleh Glenn Deshields (44) dari Austin, Texas, dan Carrie (45) dari Missouri. Mereka berdua adalah relawan vaksin COVID-19 Pfizer-BioNTech.

Glenn mengatakan, ia merasa 'teler yang parah' seperti mabuk usai disuntik vaksin buatan Pfizer-BioNTech tersebut, namun efeknya tidak berlangsung lama.

Sementara Carrie mengeluhkan sakit kepala, nyeri di tubuh, hingga demam setelah mendapat suntikan pertamanya pada bulan September lalu.

"Efek sampingnya tampak meningkat setelah dosis kedua bulan lalu," jelasnya yang dikutip dari Express UK.

3. Biaya produksi murah

Vaksin yang memanfaatkan teknologi rekayasa genetika bisa cepat dibuat, mudah diproduksi, dan berpotensi lebih murah ongkos produksinya, seperti dikutip dari The Conversation.

4. Produksi vaksin cepat

Kelebihan mRNA adalah vaksin tidak membutuhkan virus utuh sehingga dapat memangkas waktu produksi dibandingkan vaksin lainnya.

Direktur dan CEO Hudson Institute of Medical Research, Profesor Elizabeth Hartland mengatakan karena hanya membutuhkan mRNA, produksi virus dapat dipangkas sebab vaksin tak membutuhkan virus utuh.

5. Tak menularkan virus

Dilansir dari Pharmacy Times, vaksin mRNA" ini tidak dibuat dengan virus SARS-CoV-2 utuh. Artinya tidak ada kemungkinan siapa pun dapat tertular dari suntikan.

Sebaliknya, vaksin tersebut berisi potongan kode genetik yang melatih sistem kekebalan untuk mengenali protein spike di permukaan SARS-CoV-2. Potongan ini tidak akan berpotensi menularkan COVD-19.

Meski punya banyak kelebihan, tantangan dalam pendistribusian menjadi salah satu nilai minus vaksin ini. Kenapa begitu? Klik halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Bos BioNTech Yakin Vaksin Pfizer Bisa Akhiri Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]