Jumat, 27 Nov 2020 08:35 WIB

Efektivitas Vaksin COVID-19 AstraZeneca Diragukan, Ini Alasannya

Ayunda Septiani - detikHealth
Thailand Akan Produksi Vaksin AstraZeneca untuk Asia Tenggara Foto ilustrasi suntik vaksin. (Foto ilustrasi: DW (News))
Jakarta -

Beberapa ilmuwan meragukan efektivitas dari vaksin COVID-19 AstraZeneca yang bekerja sama dengan Universitas Oxford. Sebelumnya vaksin ini disebut bisa efektif rata-rata hingga 70 persen dan diyakini bisa mencapai lebih dari 90 persen.

Pandangan terbaru ilmuwan ini bukan tanpa sebab. Pasalnya, ada kesalahan yang disebut ilmuwan dilakukan di awal uji klinis.

Kesalahan tersebut terkait pemberian dosis vaksin, dari satu dosis penuh menjadi hanya setengah diberikan. Pada Senin lalu, AstraZeneca menyebut vaksin COVID-19 mereka hanya mencegah rata-rata 70 persen kasus COVID-19 di uji coba tahap akhir Inggris dan Brasil.

Hal ini bermula saat sekelompok kecil relawan menerima dosis vaksin yang lebih rendah dan secara tidak sengaja. Hasilnya vaksin berhasil 90 persen.

"Yang harus dilakukan hanyalah merilis data terbatas. Kami harus menunggu data lengkap dan untuk melihat bagaimana regulator melihat hasilnya," kata Peter Open Haw, profesor kedokteran eksperimental di Imperial College London, seperti dikutip dari laman Reuters.

Tapi pada kelompok yang lebih besar dengan pemberian dosis normal, tingkat keberhasilannya malah lebih rendah hanya 62 persen. Banyak ilmuwan mengartikan pengujian di hasil kelompok kecil dapat diartikan dengan 'menghasilkan pembacaan palsu'.

"Analisis sub kelompok dalam uji coba terkontrol secara acak selalu penuh dengan kesulitan," kata Paul Hunter, profesor kedokteran di Universitas East Anglia Inggris.

Ini mengundang keprihatinan dari Kepala Operation Warp Speed (tim khusus penanganan Corona Presiden Donald Trump), Moncef Slaoui. Ia mengatakan kemanjuran 90 persen itu ternyata ditampilkan oleh kelompok dengan risiko rendah, sebanyak 2.741 orang di bawah 55 persen.

Sementara yang menunjukkan efektivitas 62 persen lebih banyak. Relawan yang diuji mencapai 8.895.

CEO AstraZeneca Pascal Soriot mengatakan raksasa farmasi Inggris kemungkinan akan menjalankan uji coba global tambahan untuk mengevaluasi kemanjuran vaksin, sebagaimana dikutip CNBC International.

Juru bicara AstraZeneca juga membantah kritik yang dilontarkan. Perusahaan mengaku pengujian termasuk data uji klinis mereka sudah sesuai standar Data Safety Monitoring Board (DSMB).



Simak Video "Chili Setujui Penggunaan Darurat Vaksin Corona Sinovac"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)