Senin, 30 Nov 2020 10:49 WIB

COVID-19 Bukan Aib, Pakar Puji Sikap Said Aqil Umumkan Dirinya Positif

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (kedua kanan) didampingi Wakil Ketua Umum Maksum Mahfudz (kanan), Ketua Abdul Manan Ghoni (kiri) dan Ketua Robikin Emhas (kedua kiri) memberikan pernyataan sikap tentang kasus perairan Natuna di gedung PBNU, Jakarta, Senin (6/1/2020). Pakar puji sikap Said Aqil yang umumkan dirinya positif COVID-19. (Foto: Agung Pambudhy)
Jakarta -

Belum lama ini, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj mengumumkan bahwa dirinya positif COVID-19 berdasarkan hasil tes PCR. Hal ini disampaikan oleh sekretaris pribadinya, M Sofwan Erce.

"Pada kesempatan kali ini izinkan saya menyampaikan kabar berita bahwasanya pada Sabtu 28 November pada pukul 19.30, hasil PCR Swab dari almukarom Prof Doktor K.H Said Aqil Siradj menunjukan hasil positif," kata Sofwan melalui video yang diunggah di YouTube, Minggu (29/11/2020).

"Atas arahan beliau kami diminta untuk menyampaikan kabar ini, sebagaimana yang sering beliau sampaikan bahwasanya COVID-19 ini bukanlah aib, bukanlah hal yang buruk dan bisa menimpa siapa saja dari latar belakang apa saja," ucapnya.

Ahli epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riono, menyebut apa yang dilakukan oleh Said Aqil adalah hal yang baik, meskipun tidak diharuskan.

"Iya kalau dia mau kan itu sukarela, kalo dia mau mengumumkan baik. Malah dia harus memberitahu karena dia harus isolasi, jadi jangan diundang dulu rapat karena positif, nah kebaikannya di situ," jelas Pandu saat dihubungi detikcom Senin (30/11/2020).

Menurut Pandu, pengumuman positif COVID-19 yang dilakukan ini bisa membantu mencegah penyebaran virus Corona. Bisa dilakukan pelacakan kontak dari orang-orang yang bertemu dengan pasien yang positif tersebut.

Misalnya jika orang tersebut menghadiri rapat dan bertemu banyak orang sebelum tahu terinfeksi COVID-19. Maka orang-orang lain yang bertemu dengan orang tersebut bisa melakukan tes untuk tahu apakah mereka tertular atau tidak.

"Stigma dan diskriminasi itu hampir di semua penyakit, di HIV kemudian penyakit COVID-19 ini juga distigmakan. Ini fenomena meluas dan tidak ada upaya dari pemerintah untuk melakukan komunikasi publik untuk menekan stigma dan diskriminasi. Karena masyarakat memiliki kekhawatiran atau paranoid yang berlebihan.

Bagaimana mengatasinya?

Pandu mengatakan perlu adanya edukasi dari pemerintah untuk publik. Hal ini bertujuan untuk mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap COVID-19 di tengah masyarakatnya.

"Bagaimana pemerintah mengurangi stigma dan diskriminasi pada situasi COVID-19. Banyak orang yang takut di testing, udah testing positif banyak yang tidak mau mengakuinya, bahkan ke keluarganya dan menurut saya sih harus edukasi ke publik," lanjutnya.



Simak Video "Ruam Kemerahan Dewi Persik Terjadi Karena Kulit Sensitif"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)