PCR Tak Bedakan Virus Hidup dan Mati, Maksudnya Bagaimana?

ADVERTISEMENT

PCR Tak Bedakan Virus Hidup dan Mati, Maksudnya Bagaimana?

Farah Nabila - detikHealth
Rabu, 02 Des 2020 11:36 WIB
Petugas melakukan uji Swab Antigen atau PCR di Swab Drive Thru Rumah Sakit Pondok Indah (RSPI) Bintaro, Tangerang, Jumat (20/11/2020). Dengan penyediaan fasilitas ini membuat masyarakat lebih nyaman dan aman tanpa harus kontak dengan banyak orang.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Tak sedikit yang sudah dinyatakan 'sembuh' dari COVID-19 masih menunjukkan hasil positif dalam tes PCR. Hal ini dilakukan secara mandiri untuk memastikan dirinya benar-benar sudah sembuh.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam panduan terbarunya memang menyebutkan pasien bisa mengakhiri isolasi jika sudah tidak bergejala dan sudah isolasi 10-14 hari, tanpa memerlukan dua kali tes PCR hasil negatif.

Pasien yang sembuh dari COVID-19 masih menunjukkan hasil positif usai selesai menjalani isolasi bisa dikarenakan PCR tak bisa membedakan virus hidup dan mati. Apa maksudnya?

Spesialis patologi klinik dr Thyrza Laudamy Darmadi SpPK dari RS Pondok Indah (RSPI) Bintaro Jaya menjelaskan bahwa tes COVID-19 seperti PCR tak bisa membedakan virus genetik atau virus mati. Ada kemungkinan hasil tes masih positif COVID-19 saat mendeteksi fragmen virus yang sudah mati.

"Nah jadi gini yang harus dimengerti adalah tadi kan PCR ini mendeteksi materi genetik, itu tidak bisa membedakan virus hidup atau virus mati jadi bisa saja memang itu virus sudah mati jadi yang tadi fragmen virus itu," sebutnya.

"Kalau kadang saya mengistilahkan sudah bangkainya, tapi mampu terdeteksi, tetap terdeteksi gitu, karena kan yang terdeteksi adalah materi genetik," lanjutnya.

Jika hasil tes masih positif COVID-19, masih harus isolasi?

dr Thyrza menyebut pasien sembuh COVID-19 masih harus menjalani isolasi mandiri dan tetap melakukan 3M yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Namun, menurut dr Thyrza hal ini tak perlu diulang pada hari ke-90.

"Nah jadi kalau misalnya dia sudah tidak bergejala, terus kemudian sudah isolasi mandiri, itu tetap sebenarnya protokolnya 3M itu tetap harus dijalankan," sebut dr Thyrza.

"Yang pernah saya baca itu tidak perlu diulang lagi pada periode 90 hari, pada saat periode 90 hari ini sebenarnya tidak perlu untuk diulang lagi, kecuali misalnya pada periode tersebut misalnya pasien itu tiba-tiba bergejala lagi, demam, batuk, gejala yang lainnya itu diperiksakan lagi PCR-nya," lanjutnya.



Simak Video "Kapan Indonesia Cabut Status Darurat Covid-19?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT