Jumat, 04 Des 2020 05:50 WIB

Pasien Corona Tetap Nyoblos di Pilkada, Virus Menular Lewat Kotak Suara?

Achmad Reyhan Dwianto - detikHealth
Petugas kesehatan menyemprotkan cairan disinfektan di Tempat Pemungutan Suara saat simulasi Pemilihan Kepala Daerah di Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (14/9/2020).  Simulasi tersebut digelar untuk menyiapkan segala hal yang diperlukan untuk penyelenggaraan Pilkada serentak pada 9 Desember 2020 di tengah wabah COVID-19. ANTARA FOTO/Budi Candra Setya/wsj. Simulasi Pilkada 2020 (Foto: ANTARA FOTO/BUDI CANDRA SETYA)
Jakarta -

Pilkada 2020 segera digelar pada 9 Desember. Sejumlah kebijakan baru dibuat untuk melancarkan hajatan politik di tengah pandemi COVID-19 tersebut.

Salah satunya adalah pasien Corona yang dirawat inap atau tengah menjalani isolasi tidak akan kehilangan hak pilihnya dalam Pilkada 2020. Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) Nomor 6 Tahun 2020 Pasal 72 ayat 1.

"Pemilih yang sedang menjalani rawat inap, isolasi mandiri dan/ atau positif terinfeksi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) berdasarkan data yang diperoleh dari perangkat daerah yang menyelenggarakan urusan di bidang kesehatan atau Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) di wilayah setempat, dapat menggunakan hak pilihnya di TPS yang berdekatan dengan rumah sakit," tulis aturan tersebut.

Disebutkan, nantinya akan dua petugas dan dua saksi yang menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap yang akan mendatangi tempat isolasi atau perawatan pasien Corona untuk melakukan pencoblosan.

Kebijakan ini tak lepas dari pro dan kontra di masyarakat. Banyak pihak mengkhawatirkan risiko penularan COVID-19 bisa terjadi lewat kotak suara.




Seberapa besar risiko penularan COVID-19 lewat kotak suara?

Menurut dokter paru dari RS St Carolus, Prof dr Wiwien Heru Wiyono, PhD, SpP(K), risiko penularan COVID-19 lewat kotak suara tetap ada, karena virus Corona bisa bertahan lama di suatu permukaan. Namun, ini bisa diminimalisir dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

"Risiko itu tetap ada karena virus dapat exist di media, terutama jenis logam," ucap Prof Wiwien saat dihubungi detikcom, Kamis (3/12/2020).

"Kalau protokol kesehatan benar-benar dijalankan dengan ketat, maka risiko penularan bisa ditekan serendah-rendahnya," tambahnya.

Prof Wiwien juga menjelaskan, virus Corona COVID-19 dapat bertahan lama di atas permukaan logam, bahan yang biasa digunakan untuk kotak suara.

"Di metal, dikatakan bisa bertahan lebih lama. Bisa 5 hari," jelasnya.

Karenanya, protokol kesehatan seperti penyemprotan disinfektan harus diterapkan dengan baik, agar risiko penularan COVID-19 lewat kotak suara dapat diminmalisir.



Simak Video "Temuan Seputar Varian Omicron yang Perlu Jadi Perhatian"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)