Jumat, 04 Des 2020 20:00 WIB

Misteri Asal-usul COVID-19, Setahun Sejak Pasien Pertama Ditemukan di Wuhan

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Aktivitas warga Wuhan, China kembali normal setelah pemerintah mencabut pembatasan ke luar rumah pasca lockdown yang berlangsung hampir 11 pekan. Aktivitas warga Wuhan China (Foto: Getty Images/Stringer)
Jakarta -

Setahun lalu, pasien COVID-19 pertama kali terdeteksi di Wuhan, China. Kasus pertama yang diketahui komunitas medis internasional Wuhan hingga kini masih belum jelas asal-usulnya.

Menurut studi The Lancet di akhir Januari lalu, pasie pertama mulai menunjukkan gejala pada 1 Desember 20129. Namun, keluarga pasien COVID-19 tersebut tak pernah mengalami demam atau masalah pernapasan.

Faktanya, para peneliti hingga kini tak dapat menemukan hubungan epidemiologis antara siapa yang mereka yakini sebagai pasien pertama dan penularan COVID-19 di kasus berikutnya.

Dikutip dari CBS8, studi ini ditulis para peneliti China, mengamati 41 pasien konfirmasi positif COVID-19 pertama yang dirawat di RS. Konferensi pers Senin kemarin, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berkomitmen untuk terus mencari tahu asal-usul COVID-19.

"Kami ingin tahu asal usulnya dan kami akan melakukan segalanya untuk mengetahui asal usulnya," kata Tedros Adhanom Ghebreyesus, direktur jenderal WHO, kepada wartawan.

Virus Corona baru ini kala itu akhirnya meninggalkan provinsi Hubei, China, dan menyebar ke berbagai wilayah di dunia termasuk Eropa dan Amerika Serikat. Belakangan sebuah studi juga menemukan kemungkinan Corona menyebar lebih awal di Amerika Serikat beberapa minggu dari yang sebelumnya dilaporkan.

Para peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menemukan antibodi COVID-19 dalam lusinan donor darah yang diambil antara 13 Desember 2019 hingga 17 Januari 2020.

Pada Selasa kemarin, AS memiliki kasus virus Corona terbanyak di dunia dengan lebih dari 13,5 juta. Disusul oleh India, Brazil, Rusia dan Prancis sebagai negara dengan kasus terbanyak.

Jumlah kematian akibat COVID-19 hingga kini terus bertambah bahkan sudah menyentuh 1,5 juta kasus. Beberapa vaksin COVID-19 kini tengah dikembangkan, dua di antaranya sudah melaporkan hasil akhir dengan efektivitas melebihi 90 persen.

Vaksin-vaksin COVID-19 tersebut kini menjadi harapan bagi banyak orang saat beberapa negara kembali mengalami lonjakan kasus COVID-19. Orang yang tertular Corona umumnya tidak menunjukkan gejala, tetapi tak sedikit dari mereka yang juga mengalami kondisi fatal.

Terutama bagi lansia dan orang yang memiliki kondisi penyakit penyerta. Sebagian besar orang berhasil sembuh dari gejala COVID-19 usai 2 hingga 3 minggu tertular.



Simak Video "WHO: Jangan Harapkan Jawaban Instan dari Riset Tim di Wuhan"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)